SANA’A — Harga minyak dunia kembali menembus level psikologis USD 100 per barel pada pekan pertama Agustus 2026. Namun, pemicunya bukanlah konflik baru di Eropa atau kebijakan OPEC, melainkan sebuah gerakan bersenjata di ujung selatan Jazirah Arab yang mendeklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Kelompok Houthi yang didukung Iran, sejak 20 Juli lalu, secara resmi menutup jalur laut bagi kapal-kapal tanker Saudi yang melintasi Selat Bab al-Mandeb dan Laut Merah. Dalam hitungan hari, mereka menyerang kapal-kapal minyak raksasa, membakar kilang minyak di Jizan, dan bahkan melumpuhkan sementara pabrik stabilisasi minyak mentah terbesar di dunia di Abqaiq.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita konflik di Timur Tengah. Ini adalah alarm peringatan dini. Ketika dua dari tiga jalur suplai energi dunia terancam, maka harga BBM di SPBU dalam negeri dan inflasi pangan menjadi taruhannya.
Laut Merah: Jantung Pasokan Energi yang Terancam
Untuk memahami mengapa peristiwa ini krusial, kita harus melihat peta. Selama ini, jika terjadi gejolak di Selat Hormuz (yang kini efektif ditutup akibat perang AS vs Iran), Arab Saudi masih memiliki “jalan tol” alternatif: Jalur Pipa Timur-Barat yang mengalirkan 7 juta barel per hari dari ladang minyak di provinsi timur ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Namun, Houthi membaca peta ini dengan sangat cerdas. Dengan memblokade Bab al-Mandeb—yang merupakan pintu gerbang selatan Laut Merah—mereka memotong jalur ekspor minyak Saudi yang selama ini menjadi “pelarian” dari krisis di Teluk.
Data pelacakan maritim menunjukkan bahwa ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah melonjak hingga delapan kali lipat pada Juni 2026. Kini, setelah serangan Houthi, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut anjlok hingga 56 persen. Saudi Aramco bahkan terpaksa menghentikan operasi di kilang Jizan yang memproses 400.000 barel per hari.
Catur Gerilya Iran dan ‘Jepit Buaya’ Minyak Dunia
Para Peneliti Trust Politika melihat bahwa Houthi tidak bertindak sendiri. Ini adalah bagian dari strategi besar Iran yang kini menjalankan taktik “jepit buaya” (pincer movement) atas pasokan energi global.
Di utara, Iran menutup Hormuz. Di selatan, melalui tangan panjangnya di Yaman, Iran mengancam Bab al-Mandeb. “Iran sekarang memegang kendali atas dua titik pengepungan maritim secara bersamaan, sebuah posisi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar analis politik Saudi, Hesham Alghannam, kepada media asing.
Dengan kata lain, setiap kapal tanker yang hendak keluar dari Timur Tengah harus melewati “lorong maut” yang diawaki rudal balistik dan drone Houthi. Ini bukan sekadar perang proksi; ini adalah perang ekonomi total yang bertujuan untuk menghancurkan kepercayaan pasar dan memaksa AS serta sekutunya kembali ke meja perundingan.
Dilema Saudi: Antara Membalas atau Merugi
Di pihak Arab Saudi, situasi ini adalah ujian terbesar sejak serangan drone di Abqaiq pada 2019. Namun kali ini, Riyadh terjepit.
Di satu sisi, jika mereka membalas dengan operasi militer besar-besaran di Yaman, konflik akan melebar dan semakin mengganggu pelayaran internasional—yang justru akan merugikan Saudi sendiri karena mereka adalah pengekspor minyak terbesar dunia.
Di sisi lain, jika mereka diam saja, Houthi akan semakin berani. Serangan pada 5 Agustus lalu yang menargetkan dua kapal tanker sekaligus (Wafa dan Daisy) menunjukkan bahwa Houthi tidak gentar dengan ancaman AS maupun Saudi.
Menariknya, Saudi dilaporkan melakukan mediasi diam-diam melalui Oman. Namun, mereka membantahnya di depan publik. Ini adalah strategi klasik “diplomasi di bawah meja” untuk menghindari citra lemah, meskipun para analis menilai bahwa penolakan publik justru memperkuat posisi tawar Houthi di meja negosiasi.
Dampak Domestik: Mengapa Ini Penting untuk Indonesia?
Bagi Indonesia, ada tiga dampak langsung yang patut dicermati:
- Lonjakan Harga Minyak dan Subsidi: Dengan harga Brent yang sudah menembus USD 100, beban APBN untuk subsidi energi akan membengkak. Jika tren ini berlanjut, pemerintah akan menghadapi tekanan besar untuk menyesuaikan harga BBM, yang selalu menjadi isu sensitif secara sosial dan politik.
- Biaya Logistik Melonjak: Meskipun Indonesia tidak membeli minyak langsung dari Arab Saudi melalui jalur tersebut, gangguan di Bab al-Mandeb mempengaruhi biaya asuransi dan pengiriman global. Sekitar 12 persen perdagangan global (termasuk komoditas dan barang elektronik) melintasi Laut Merah menuju Terusan Suez. Jika rute ini tidak aman, biaya logistik naik, dan pada akhirnya harga barang di pasar tradisional ikut terkerek.
- Kepentingan Maritim Nasional: Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan anggota poros maritim, Indonesia memiliki kepentingan besar atas kebebasan navigasi (freedom of navigation). Meskipun Indonesia netral dalam konflik AS-Iran, eskalasi di Laut Merah menciptakan preseden berbahaya: bahwa jalur pelayaran internasional dapat disandera oleh aktor non-negara. Ini adalah ancaman yang tidak boleh dianggap remeh oleh pemerintah.
Narasihub Insight
Para pengamat dari Chatham House memperingatkan bahwa kita mungkin memasuki era ketidakpastian maritim yang berkepanjangan. Houthi telah menunjukkan bahwa kelompok dengan persenjataan terbatas pun mampu mengguncang pasar global.
Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan menghukum Iran secara militer jika serangan terus berlanjut. Namun, ancaman ini justru bisa menjadi bumerang jika Houthi semakin terprovokasi.
Skenario terbaik saat ini adalah gencatan senjata yang dinegosiasikan di Oman. Namun, jika kesepakatan gagal, kita harus bersiap menghadapi “musim panas yang panas” di pasar energi, yang berpotensi berlanjut hingga tahun politik di Indonesia 2027 mendatang.
Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan adalah mengamati dengan cermat. Sebab, ketika dua kekuatan besar saling berhadapan di Teluk, dan kelompok pemberontak menutup pintu air di Laut Merah, maka guncangannya akan terasa hingga ke kantong-kantong rakyat Indonesia.
