PORT MORESBY – Selandia Baru dan Papua Nugini (PNG) resmi menandatangani Statement of Intent on Defence Cooperation 2026–2029, sebuah kesepakatan yang akan memperluas kerja sama pertahanan kedua negara melalui peningkatan dialog strategis, pelatihan militer, latihan bersama, serta pertukaran personel. Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Pertahanan Selandia Baru Chris Penk dan Menteri Pertahanan Papua Nugini Elias Kapavore di Port Moresby, Rabu (24/7).

Kesepakatan tersebut menjadi langkah terbaru Wellington dalam memperdalam hubungan keamanan dengan negara-negara Kepulauan Pasifik di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik antara kekuatan-kekuatan besar, khususnya meningkatnya pengaruh China di kawasan Pasifik Selatan.

Dalam pernyataannya, Chris Penk menegaskan bahwa kerja sama pertahanan yang lebih erat menjadi kebutuhan strategis di tengah lingkungan keamanan global yang semakin tidak menentu.

“Di dunia yang semakin bergejolak, negara-negara Pasifik seperti kita akan lebih kuat ketika bekerja sama untuk menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks di kawasan,” ujar Penk.

Menurutnya, dokumen kerja sama tersebut akan menjadi landasan bagi peningkatan hubungan militer melalui dialog pertahanan yang lebih intensif, latihan gabungan, pengembangan kapasitas personel, hingga pertukaran pengalaman antarlembaga pertahanan kedua negara.

Melanjutkan Kemitraan Strategis yang Telah Dibangun

Kesepakatan pertahanan ini merupakan kelanjutan dari New Zealand–Papua New Guinea Statement of Partnership 2025–2029 yang ditandatangani pada tahun sebelumnya. Dokumen tersebut telah memperkuat kerja sama kedua negara dalam bidang keamanan, pertahanan, pembangunan ekonomi, serta hubungan diplomatik.

Dengan adanya kesepakatan baru ini, hubungan bilateral tidak lagi hanya berorientasi pada kerja sama pembangunan, tetapi mulai bergerak menuju kemitraan keamanan yang lebih komprehensif.

Pemerintah Selandia Baru menilai Papua Nugini memiliki posisi strategis sebagai negara terbesar di kawasan Pasifik dan pintu gerbang menuju Asia Tenggara, sehingga stabilitas keamanan PNG menjadi bagian penting dari arsitektur keamanan regional.

Tidak Hanya Pertahanan, tetapi Juga Keamanan Digital

Selain agenda pertahanan, kunjungan Menteri Pertahanan Chris Penk ke Papua Nugini juga mencakup partisipasi dalam Pacific Islands Forum (PIF) Information and Communications Technology (ICT) Ministers Meeting.

Forum tersebut mempertemukan para menteri dan pemimpin teknologi dari negara-negara Pasifik untuk membahas transformasi digital, pengembangan ekonomi digital, keamanan siber, serta tata kelola teknologi baru.

Penk menegaskan bahwa transformasi digital kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keamanan nasional.

“Seiring teknologi digital menjadi semakin penting bagi keamanan dan kemakmuran kawasan Pasifik, Selandia Baru berkomitmen menjadi mitra yang aktif dalam mendorong transformasi digital, pertumbuhan ekonomi, serta penguatan keamanan siber,” katanya.

Forum ICT PIF sendiri merupakan mekanisme baru dalam struktur Pacific Islands Forum yang dirancang untuk membantu negara-negara Pasifik menyusun kebijakan bersama mengenai transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), keamanan data, hingga infrastruktur komunikasi regional.

Selandia Baru juga dijadwalkan menjadi tuan rumah Pacific Islands Forum 2027, yang diperkirakan akan menjadi salah satu forum regional paling penting dalam membahas isu keamanan, perubahan iklim, dan teknologi di kawasan Indo-Pasifik.

Kawasan Pasifik Menjadi Arena Persaingan Strategis

Penandatanganan kerja sama pertahanan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika geopolitik yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Kawasan Pasifik Selatan kini berubah menjadi salah satu arena utama persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dengan China.

Sejak Beijing menandatangani pakta keamanan dengan Kepulauan Solomon pada 2022, negara-negara Barat mulai meningkatkan intensitas diplomasi keamanan di kawasan Pasifik.

Australia, Amerika Serikat, Jepang, Prancis, dan Selandia Baru secara bertahap memperluas bantuan pertahanan, pembangunan infrastruktur, pelatihan militer, hingga kerja sama keamanan maritim kepada negara-negara kepulauan Pasifik.

Papua Nugini menjadi salah satu negara yang paling strategis dalam konfigurasi tersebut.

Selain memiliki wilayah daratan terbesar di Pasifik, Papua Nugini juga berada di jalur laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Asia Tenggara dan Australia. Posisi geografis tersebut menjadikan PNG sebagai salah satu titik penting dalam pengawasan jalur pelayaran, keamanan maritim, serta perlindungan kabel komunikasi bawah laut yang menjadi tulang punggung ekonomi digital global.

Fokus pada Capacity Building

Berbeda dengan pembentukan aliansi militer formal, kerja sama Selandia Baru–Papua Nugini lebih menitikberatkan pada capacity building atau peningkatan kapasitas kelembagaan pertahanan.

Program yang akan dijalankan meliputi pendidikan militer, pelatihan personel, latihan gabungan, pertukaran perwira, pengembangan doktrin pertahanan, serta peningkatan kemampuan menghadapi bencana alam dan operasi kemanusiaan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter keamanan kawasan Pasifik yang lebih banyak menghadapi ancaman non-konvensional seperti bencana alam, penangkapan ikan ilegal, penyelundupan lintas batas, kejahatan siber, hingga dampak perubahan iklim.

Implikasi bagi Indonesia

Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki arti strategis karena Papua Nugini merupakan negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Provinsi Papua. Penguatan kerja sama pertahanan Selandia Baru–Papua Nugini akan memengaruhi dinamika keamanan di kawasan Pasifik Barat, terutama dalam isu keamanan maritim, pengawasan wilayah perbatasan, penanggulangan kejahatan lintas negara, serta perlindungan infrastruktur digital regional.

Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa kawasan Pasifik semakin terintegrasi dengan strategi Indo-Pasifik yang dikembangkan berbagai kekuatan global. Oleh karena itu, Indonesia memiliki kepentingan untuk terus memperkuat diplomasi pertahanan, kerja sama keamanan maritim, serta keterlibatan aktif dalam forum-forum regional guna menjaga stabilitas kawasan dan memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi di tengah meningkatnya kompetisi geopolitik di Pasifik Selatan.

Narasihub Insight

Dari perspektif geopolitik, kerja sama pertahanan antara Selandia Baru dan Papua Nugini menunjukkan bahwa kawasan Pasifik kini mengalami rekonstruksi arsitektur keamanan. Jika pada era Perang Dingin perhatian utama terfokus pada ancaman militer konvensional, maka saat ini agenda keamanan berkembang mencakup keamanan maritim, perlindungan infrastruktur digital, ketahanan siber, keamanan rantai pasok, dan respons terhadap bencana.

Bagi Selandia Baru, memperkuat hubungan dengan Papua Nugini merupakan bagian dari strategi mempertahankan pengaruh tradisional di Pasifik sekaligus memastikan bahwa kawasan tersebut tetap berada dalam tatanan keamanan yang terbuka dan berbasis aturan. Pendekatan Wellington juga mencerminkan upaya memperkuat interoperabilitas antarangkatan bersenjata negara-negara Pasifik tanpa membentuk blok militer yang bersifat konfrontatif.

Bagi Papua Nugini, kemitraan ini memberikan manfaat berupa peningkatan profesionalisme militer, akses terhadap pelatihan dan teknologi pertahanan, serta dukungan dalam membangun kapasitas menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Di sisi lain, Port Moresby juga berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai mitra internasional agar tidak terjebak dalam rivalitas antara Barat dan China.

By azhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *