JAKARTA — Kaderisasi politik kembali menjadi perhatian ketika dua partai besar, Partai Demokrat dan Partai Golkar, pada periode yang relatif berdekatan memperlihatkan keseriusan membangun sumber daya manusia politik melalui jalur pendidikan kader. Demokrat mengembangkan Akademi Demokrat, sementara Golkar menjalankan Training of Trainers (TOT) kader untuk mencetak instruktur pendidikan politik. Keduanya menunjukkan bahwa persaingan partai politik tidak hanya berlangsung melalui perebutan suara menjelang pemilu, tetapi juga melalui kemampuan membangun kader yang memiliki kompetensi, loyalitas, ideologi, dan kapasitas organisasi.

Pada 11 Desember 2019, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melepas 45 lulusan angkatan pertama Akademi Demokrat dalam acara wisuda di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan. Akademi tersebut merupakan gagasan AHY dan dirancang sebagai salah satu instrumen untuk mempersiapkan generasi muda Partai Demokrat memasuki dunia politik secara lebih profesional.

Para taruna menjalani pendidikan selama kurang lebih enam bulan sebelum diarahkan untuk bekerja sebagai staf ahli anggota legislatif Partai Demokrat. Dengan desain seperti itu, Akademi Demokrat tidak sekadar berfungsi sebagai forum pendidikan politik, tetapi juga menjadi jalur pembentukan tenaga profesional yang dapat langsung ditempatkan di lingkungan kerja politik dan parlemen.

Hal yang menarik perhatian publik adalah adanya kontrak politik internal yang ditandatangani para lulusan. Mereka menyatakan kesediaan untuk tidak berpindah partai selama 10 tahun. Jika melanggar kesepakatan tersebut, mereka diwajibkan membayar denda sebesar Rp1 miliar.

AHY menyebut kontrak tersebut sebagai upaya membangun loyalitas kader sekaligus mengurangi fenomena keluar-masuk kader yang kerap terjadi dalam politik Indonesia. Menurutnya, para taruna menandatangani kontrak secara sukarela dan tidak berada dalam tekanan.

Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan problem klasik kaderisasi partai di Indonesia: bagaimana mengubah hubungan politik yang bersifat transaksional menjadi hubungan organisasi yang dibangun melalui nilai, pendidikan, karier, dan loyalitas jangka panjang.

Dalam konteks ini, Akademi Demokrat menarik karena mencoba membangun jalur karier politik sejak usia muda. Pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan mengenai politik, tetapi dilanjutkan dengan penempatan lulusan sebagai tenaga pendukung anggota legislatif. Dengan demikian, proses kaderisasi terhubung langsung dengan kebutuhan organisasi.

Ketua Umum Partai Demokrat saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), juga memberikan penekanan pada aspek nilai. Dalam pesannya kepada para lulusan, SBY menyebut Demokrat sebagai partai nasionalis-religius dan mengingatkan kader untuk memegang empat nilai utama, yakni peace, justice, prosperity, dan democracy.

Bagi SBY, pendidikan kader bukan semata-mata menghasilkan orang yang mampu memenangkan pemilu. Kader juga harus memahami identitas dan nilai dasar partai agar memiliki orientasi perjuangan yang lebih panjang daripada sekadar kepentingan elektoral.

Fenomena serupa terlihat di Partai Golkar. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Golkar juga menjalankan Training of Trainers (TOT) sebagai bagian dari agenda kaderisasi. TOT tersebut diikuti 81 peserta dan diarahkan untuk mencetak instruktur yang kompeten serta berkarakter.

Berbeda dengan Akademi Demokrat yang menonjolkan model pendidikan kader muda dan jalur profesional menuju kerja politik, TOT Golkar memiliki fungsi penggandaan kapasitas kader. Para peserta tidak hanya dididik untuk menjadi kader, tetapi dipersiapkan menjadi instruktur yang nantinya dapat mentransfer pengetahuan dan nilai organisasi kepada kader-kader lainnya.

Materi yang diberikan mencakup kepemimpinan hingga doktrin karya kekaryaan yang menjadi bagian penting dari identitas historis Golkar. Dengan mencetak instruktur, Golkar pada dasarnya membangun mekanisme reproduksi pengetahuan politik secara internal.

Di sinilah terdapat perbedaan menarik antara kedua model tersebut.

Demokrat membangun kader melalui model akademi dan jalur profesionalisasi politik, sementara Golkar memperkuat kaderisasi melalui sistem instruktur yang memungkinkan pendidikan politik direplikasi secara lebih luas.

Namun, keduanya memiliki tujuan strategis yang sama: membangun partai yang tidak hanya hidup menjelang pemilu.

Dalam sistem demokrasi yang matang, partai politik seharusnya tidak berfungsi sebagai kendaraan elektoral yang aktif hanya ketika pemilu semakin dekat. Partai harus menjadi institusi yang secara terus-menerus melakukan rekrutmen, pendidikan, kaderisasi, pembentukan kepemimpinan, dan regenerasi.

Problemnya, banyak partai politik di Indonesia masih menghadapi persoalan kaderisasi. Popularitas figur sering kali lebih dominan daripada kekuatan institusi. Kader yang memiliki modal politik, finansial, atau elektoral dapat berpindah kendaraan ketika kepentingannya tidak lagi sejalan dengan partai. Sebaliknya, partai yang gagal menyediakan jalur karier dan pendidikan yang jelas akan kesulitan mempertahankan generasi mudanya.

Karena itu, pendidikan politik menjadi investasi strategis.

Akademi Demokrat memperlihatkan pendekatan human capital politik: kader muda dididik, diberi pengalaman, kemudian ditempatkan dalam ekosistem kerja politik. Sementara TOT Golkar memperlihatkan pendekatan institutional multiplier: kader tertentu dipersiapkan menjadi instruktur sehingga kemampuan pendidikan dapat diperbanyak ke jaringan organisasi yang lebih luas.

Keduanya memiliki kelebihan sekaligus tantangan.

Model akademi membutuhkan kurikulum yang konsisten, mentor berkualitas, mekanisme evaluasi, serta jalur karier yang nyata setelah pendidikan selesai. Tanpa itu, akademi berisiko berubah menjadi sekadar program seremonial.

Sementara model TOT membutuhkan sistem organisasi yang mampu memastikan para instruktur benar-benar digunakan dan ditempatkan secara efektif. Instruktur yang sudah dilatih tetapi tidak memiliki ruang untuk mengajar dan membangun kader baru akan kehilangan fungsi strategisnya.

Karena itu, ukuran keberhasilan kaderisasi seharusnya tidak berhenti pada jumlah peserta yang lulus.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah berapa banyak kader yang bertahan, berkembang, mendapatkan tanggung jawab, mampu memenangkan kepercayaan publik, dan kemudian melahirkan kader baru.

Dari perspektif pembangunan institusi politik, kontrak loyalitas 10 tahun yang diterapkan Akademi Demokrat juga menarik untuk dibaca lebih jauh. Kontrak dapat menjadi instrumen untuk memperkuat komitmen, tetapi loyalitas politik yang paling kuat pada akhirnya tidak lahir dari denda. Loyalitas yang bertahan selama puluhan tahun biasanya lahir karena kader merasa memiliki nilai, sejarah, jaringan, kesempatan berkarier, dan masa depan di dalam organisasi.

Dengan kata lain, Rp1 miliar mungkin dapat menjadi penghalang untuk keluar, tetapi tidak otomatis dapat membuat seseorang ingin bertahan.

Partai yang ingin membangun kaderisasi jangka panjang harus menawarkan sesuatu yang lebih besar: ideologi yang dipercaya, kepemimpinan yang memberi teladan, meritokrasi, pendidikan berkelanjutan, ruang aktualisasi, serta kesempatan untuk naik berdasarkan kompetensi.

Pada titik inilah pendidikan kader menjadi bagian dari strategi politik jangka panjang.

Akademi Demokrat dan TOT Golkar memberikan pelajaran penting bahwa investasi politik yang paling strategis bukan selalu baliho, iklan, atau kampanye menjelang pemilu. Investasi yang jauh lebih menentukan adalah manusia yang bekerja di balik institusi politik tersebut.

Seorang kader yang terdidik dapat menjadi anggota legislatif. Seorang instruktur yang kompeten dapat melahirkan puluhan kader baru. Puluhan kader tersebut dapat membangun jaringan organisasi di tingkat daerah. Dari sana lahir pemimpin baru yang memahami sejarah, nilai, mekanisme organisasi, sekaligus kebutuhan masyarakat.

Dalam perspektif tersebut, kaderisasi sebenarnya adalah politik untuk 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan.

Partai yang hanya berpikir tentang pemilu berikutnya akan sibuk mencari kandidat. Partai yang berpikir tentang masa depan akan membangun kader.

Dan pada akhirnya, kualitas demokrasi juga sangat bergantung pada kualitas partai politiknya. Demokrasi membutuhkan pemilu, tetapi demokrasi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar pemilu: ia membutuhkan institusi politik yang mampu melahirkan pemimpin, menjaga nilai, mengembangkan kapasitas, dan melakukan regenerasi secara teratur.

Akademi Demokrat dan TOT Golkar, dengan pendekatan yang berbeda, memperlihatkan satu kesimpulan yang sama: pertarungan politik yang sesungguhnya tidak dimulai ketika kampanye dibuka, tetapi jauh sebelumnya—di ruang kelas, forum kaderisasi, organisasi, dan proses panjang membentuk manusia politik.

Di era ketika loyalitas politik semakin cair dan politik figur semakin kuat, partai yang mampu mengubah kaderisasi menjadi sistem yang profesional, meritokratis, dan berkelanjutan akan memiliki keunggulan yang tidak selalu terlihat dalam survei hari ini, tetapi dapat menentukan peta kekuatan politik pada satu atau dua dekade mendatang.

By azhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *