SANTIAGO – Peta politik Amerika Latin kembali berubah warna. Dalam tiga tahun terakhir, sembilan negara di kawasan ini telah beralih ke kanan—sebuah perubahan politik terbesar dan terpadat dalam dua dekade terakhir. Dari Chile hingga Kolombia, dari Argentina hingga Peru, kandidat-kandidat kanan dan kanan-jauh meraih kemenangan berturut-turut. Bagi banyak pengamat, ini tampak seperti akhir dari siklus progresif yang pernah mendominasi kawasan. Namun, pembacaan yang lebih cermat terhadap data elektoral dan dinamika politik domestik mengungkap gambaran yang jauh lebih kompleks: apa yang kita saksikan bukanlah realignment ideologis permanen, melainkan hukuman elektoral terhadap petahana—sebuah pendulum yang, berdasarkan logika internalnya sendiri, cepat atau lambat akan berayun kembali.

Margin Tipis, Basis Kiri yang Tetap Utuh

Kemenangan kanan di Amerika Latin, jika dilihat dari angka, jauh dari mandat yang meyakinkan. Di Peru, Keiko Fujimori memenangkan kursi kepresidenan dengan hanya 50,1 persen suara, sementara kandidat kiri Roberto Sánchez meraih 49,9 persen—selisih kurang dari satu persen. Di Kolombia, Abelardo de la Espriella menang dengan sekitar 49,7 persen, sementara Iván Cepeda memperoleh 48,7 persen. Di Ekuador, correísmo—gerakan politik yang terkait dengan mantan presiden Rafael Correa—masih mengamankan 44,4 persen suara. Di Argentina, Peronisme bertahan dengan 44 persen. Bahkan di Chile, di mana José Antonio Kast menang dengan 58,16 persen, kandidat koalisi pemerintahan Jeannette Jara tetap meraih 41,82 persen.

Angka-angka ini menceritakan sesuatu yang fundamental: basis elektoral kiri tidak hilang. Yang terjadi adalah pergeseran tipis di margin—cukup untuk mengubah pemenang, tetapi tidak cukup untuk menghapus keberadaan politik progresif dari lanskap elektoral. Dalam sistem pemilu yang polarisasi dan volatilitasnya tinggi, pergeseran dua hingga tiga persen dapat menentukan siapa yang memerintah, tetapi tidak mengubah komposisi ideologis dasar elektorat. Sebagaimana dicatat oleh analis politik Chile, “Chile kini memiliki elektorat yang mampu memilih kanan-jauh dalam satu pemilu dan kiri-jauh dalam pemilu berikutnya”.

Anti-Incumbency: Mesin Utama di Balik Pergeseran

Apa yang sesungguhnya mendorong perubahan-perubahan ini bukanlah konversi ideologis massal, melainkan kelelahan publik terhadap pemerintah yang berkuasa. Data dari AmericasBarometer/LAPOP 2026 menunjukkan bahwa anti-incumbency dan perubahan prioritas isu mungkin lebih menentukan daripada pergerakan luas ke kanan. Studi tentang pergantian presiden di Amerika Selatan antara 2020 dan 2025 menemukan bahwa sepuluh dari sebelas pemilu menghasilkan kekalahan petahana.

Pola ini terlihat jelas di seluruh kawasan. Di Kolombia, meskipun kemiskinan turun dari 36,6 persen pada 2022 menjadi 28,0 persen pada 2025 dan indikator sosial lainnya membaik, pemerintah petahana tetap kalah. Di Chile, pertumbuhan ekonomi mencapai 2,5 persen pada 2025 dengan inflasi 3,5 persen dan kenaikan upah riil 2,4 persen, tetapi koalisi pemerintahan tetap dikalahkan. Ini menunjukkan bahwa perbaikan indikator makro tidak otomatis diterjemahkan menjadi dukungan elektoral. Yang lebih menentukan adalah apakah pemerintah mampu menjawab apa yang paling dirasakan rakyat: keamanan, biaya hidup, dan lapangan kerja.

Kast di Chile adalah contoh sempurna dari fenomena ini. Ia tidak berkampanye dengan perang budaya atau wacana ultra-konservatif tentang nilai. Sebaliknya, ia fokus pada kekhawatiran langsung warga—kesulitan ekonomi dan keamanan publik—dan menjanjikan “pemerintahan darurat” yang didukung oleh “pemilih yang kecewa”. Ia memahami bahwa pemilu Chile 2025 adalah pemilu pertama dengan wajib memilih sejak diperkenalkan kembali, yang secara dramatis memperluas elektorat dan memasukkan jutaan pemilih volatil yang tidak memiliki afiliasi ideologis kuat. Strateginya bukan memperdalam polarisasi, melainkan menargetkan pemilih tanpa identitas ideologis yang kuat.

Retakan di Menara Kanan: Ketika Pemenang Mulai Kehilangan

Jika gelombang kanan adalah hukuman terhadap petahana, maka hukum yang sama berlaku bagi mereka yang kini berkuasa. Dan retakan sudah mulai terlihat—bahkan sebelum pemerintahan-pemerintahan ini genap berusia satu tahun.

Di Argentina, Javier Milei memulai pemerintahannya dengan janji revolusi pasar bebas. Namun pada paruh pertama 2026, tingkat kemiskinan melonjak menjadi 32,3 persen, naik empat poin persentase dari 28,2 persen pada paruh kedua 2025. Kemiskinan ekstrem naik dari 6,3 persen menjadi 7,5 persen. Ini adalah pukulan telak bagi seorang presiden yang berulang kali menyebut penurunan kemiskinan sebagai bukti bahwa reformasi ekonominya berhasil. Yang lebih mengkhawatirkan, pengangguran kini telah menggantikan inflasi sebagai kekhawatiran utama warga Argentina. Tingkat persetujuan Milei merosot ke sekitar 36 persen, sementara ketidaksetujuan mencapai 58 persen.

Di Chile, Kast menghadapi realitas yang sama pahitnya. Hanya beberapa bulan setelah pelantikannya, tingkat ketidaksetujuan terhadap pemerintahannya mencapai 65 persen—tertinggi dalam sejarah kepresidenannya. Tingkat persetujuannya stagnan di 32 persen. Yang lebih ironis, persepsi bahwa kejahatan meningkat justru naik 13 poin sejak Agustus, meskipun keamanan adalah isu utama yang membawanya berkuasa. Publik Chile mulai menyadari bahwa retorika mano dura tidak secara otomatis menghasilkan keamanan yang lebih baik.

Di Bolivia, pemerintahan kanan Rodrigo Paz menghadapi protes massal yang melumpuhkan negara. Kelompok-kelompok adat dan petani koka memblokade lebih dari 50 titik di seluruh negeri, menyebabkan kekurangan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan. Paz terpaksa mendeklarasikan keadaan darurat dan mengerahkan militer untuk membubarkan blokade—sebuah tindakan yang justru memperdalam krisis legitimasi. Ini adalah pengingat bahwa di Amerika Latin, kekuasaan formal tidak selalu berarti kontrol efektif atas wilayah.

Bahkan di Ekuador, di mana Daniel Noboa awalnya tampak sebagai pengecualian dengan tingkat persetujuan yang pulih ke 47,4 persen pada September 2026, ketidaksetujuan sempat mencapai lebih dari 75 persen pada Juni 2026. Pemulihannya sebagian besar didorong oleh penurunan ekspektasi publik yang begitu dalam sehingga bahkan perbaikan kecil terasa signifikan.

Pendulum, Bukan Realignment

Pola yang muncul dari seluruh kawasan ini bukanlah konsolidasi hegemoni kanan, melainkan volatilitas elektoral yang ekstrem. Tidak ada kubu yang mampu membangun mayoritas sosial yang cukup stabil untuk menegakkan hegemoni jangka panjang. Yang kita saksikan adalah alternasi kekuasaan yang cepat—sebuah pendulum yang berayun semakin cepat seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap semua pemerintah.

Data LAPOP 2026 mengonfirmasi hal ini. 53 persen responden di seluruh kawasan mengatakan mereka akan memilih oposisi dalam pemilu berikutnya, sementara hanya 23 persen yang akan merusak suara atau memilih blanko, dan 18 persen tidak akan memilih sama sekali. Ini bukan tanda penerimaan ideologis terhadap kanan; ini adalah protes terhadap status quo yang mengekspresikan dirinya melalui saluran elektoral yang tersedia.

Yang lebih penting, tidak ada agenda regional yang koheren di antara pemerintahan-pemerintahan kanan yang baru terpilih. Berbeda dengan “Gelombang Merah Muda” awal 2000-an yang menghasilkan institusi-institusi regional seperti UNASUR dan ALBA, gelombang kanan saat ini didominasi oleh nasionalisme dan anti-institusionalisme. Para pemimpinnya—Milei di Argentina, Bukele di El Salvador, de la Espriella di Kolombia—adalah individualis yang memandang mekanisme internasional sebagai pelanggaran kedaulatan nasional. Ketika politik berpusat pada kualitas individu pemimpin, sulit bagi banyak pemimpin kuat untuk duduk di meja yang sama dan mendorong inisiatif multilateral, karena tidak ada yang bisa “mengemudikan kapal” secara berkelanjutan.

Ancaman Sebenarnya: Bukan Kanan, tetapi Erosi Demokrasi

Bahaya yang paling serius bagi Amerika Latin bukanlah kemenangan kanan itu sendiri, melainkan konsekuensi institusional dari pola anti-incumbency yang berulang. Ketika pemilih terus-menerus menghukum petahana, insentif bagi pemerintah yang berkuasa untuk mengubah aturan main menjadi semakin kuat. Ancaman terhadap demokrasi tidak lagi datang dari barak militer, melainkan dari eksekutif sendiri melalui bentuk-bentuk competitive authoritarianism—mengooptasi pengadilan, mengubah aturan elektoral, atau memperpanjang masa jabatan.

Rezim Bukele di El Salvador adalah bukti hidup bahwa demokrasi dapat diakhiri tanpa kudeta. Di Argentina, Milei telah menunjukkan tanda-tanda ke arah ini, meskipun tekanan ekonomi dan politik yang berat membatasi ruang manuvernya. Di Chile, Kast menghadapi oposisi yang kuat, tetapi institusi-institusi demokrasi Chile yang telah matang selama tiga dekade menjadi benteng yang signifikan. Pertanyaan kuncinya adalah: berapa lama benteng-benteng ini dapat bertahan jika tekanan anti-incumbency terus meningkat?

Ini adalah pelajaran penting bagi Indonesia. Dalam sistem politik yang terfragmentasi dan institusi yang belum sepenuhnya terkonsolidasi, godaan untuk mengubah aturan main ketika menghadapi kekalahan elektoral adalah nyata. Indonesia harus memperkuat institusi-institusinya—KPU, Bawaslu, MK, KPK—sebelum tekanan politik menjadi terlalu besar. Pendulum elektoral hanya sehat jika pemenang tidak merusak kondisi yang memungkinkan kekalahan.

Implikasi bagi Indonesia: Pragmatisme di Tengah Ketidakpastian

Bagi Indonesia, gelombang kanan Amerika Latin adalah cermin dan pelajaran, bukan sekadar berita internasional.

Pertama, diversifikasi diplomasi ekonomi menjadi semakin penting. Ketika pemerintahan di Amerika Latin silih berganti dengan cepat, Indonesia tidak bisa mengandalkan hubungan personal dengan satu pemimpin atau satu kubu ideologis. Strategi “Bebas Aktif” yang diterjemahkan menjadi kemitraan ekonomi konkret—seperti CEPA dengan Chile dan Peru, serta PTA dengan Mercosur—adalah fondasi yang jauh lebih tahan lama daripada aliansi ideologis. Indonesia harus terus memperluas jaringan ekonominya di kawasan ini, terlepas dari warna politik pemerintah yang berkuasa.

Kedua, pelajaran anti-incumbency berlaku universal. Pemerintahan Prabowo dengan koalisi besarnya saat ini menikmati legitimasi elektoral yang kuat. Tetapi seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman Amerika Latin, legitimasi elektoral tidak menjamin kelangsungan politik. Jika inflasi, biaya hidup, dan lapangan kerja tidak terkendali, publik akan menghukum petahana—tanpa memandang ideologi. Pemerintah Indonesia harus fokus pada quick wins yang dirasakan langsung oleh rakyat: harga pangan yang stabil, lapangan kerja yang tersedia, dan rasa aman di jalanan.

Ketiga, kedaulatan pangan dan energi adalah jangkar geopolitik. Di tengah volatilitas politik global, Indonesia memiliki aset strategis yang tidak dimiliki banyak negara: sumber daya alam yang melimpah dan pasar domestik yang besar. Ketahanan pangan dan energi bukan hanya kebijakan domestik; ini adalah instrumen geopolitik yang memungkinkan Indonesia untuk tetap menjadi pragmatic balancer di antara kekuatan-kekuatan besar, tanpa harus terjebak dalam dikotomi ideologis yang semakin tidak relevan.

Narasihub Insight

Gelombang kanan di Amerika Latin adalah gejala, bukan penyebab. Ia lahir dari kekecewaan publik terhadap pemerintah yang gagal memenuhi ekspektasi, bukan dari konversi ideologis massal. Margin kemenangan yang tipis, basis kiri yang tetap utuh, dan retakan yang mulai terlihat di pemerintahan-pemerintahan kanan yang baru terpilih semuanya menunjukkan satu hal: ini bukanlah realignment permanen, melainkan pendulum yang berayun.

Bagi Indonesia, pelajarannya jelas. Dalam dunia yang semakin volatil, pemenang bukan yang paling ideologis, melainkan yang paling adaptif dan mampu menjaga kepercayaan publik. Indonesia harus menjadi pragmatic balancer—bukan netralitas pasif, melainkan manuver aktif di antara kekuatan-kekuatan besar, demi kepentingan rakyat kecil. Dan yang paling penting, Indonesia harus memperkuat institusi demokrasinya sebelum tekanan politik menjadi terlalu besar untuk diabaikan. Karena sejarah Amerika Latin mengajarkan satu hal yang pahit: pendulum hanya berfungsi jika pemenang tidak merusak kondisi yang memungkinkan kekalahan.

By azhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *