Penegasan dukungan Partai Golkar kepada Prabowo Subianto untuk Pilpres 2029 memperlihatkan karakter politik yang mengutamakan kesinambungan, kompromi, dan konsensus. Namun, tradisi merapat ke pemerintahan juga menghadirkan pertanyaan mendasar tentang batas antara stabilitas kekuasaan, independensi partai, dan kualitas demokrasi.

JAKARTA — Di tengah politik yang kerap dipertontonkan sebagai pertarungan menang-kalah, Partai Golkar kembali menegaskan pilihan politiknya dengan cara yang relatif khas: menetapkan arah lebih awal, membuka ruang perundingan, dan tidak menjadikan penentuan pasangan calon sebagai persoalan yang harus diselesaikan sekaligus.

Pada Jumat, 9 Oktober 2026, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menyatakan bahwa partainya telah memiliki pilihan calon presiden untuk Pemilu 2029, yakni Prabowo Subianto. Sementara itu, nama calon wakil presiden belum ditentukan dan pembahasannya akan mengikuti perkembangan koalisi menjelang pendaftaran pasangan calon. Doli juga menyebut keputusan mendukung Prabowo telah memiliki pijakan sejak akhir 2024.

Keputusan ini menarik bukan semata-mata karena Golkar bergerak lebih awal dalam memperjelas dukungannya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana keputusan tersebut mencerminkan tradisi politik sebuah partai yang selama perjalanan panjangnya cenderung memilih berada di dalam lingkaran pemerintahan, membangun hubungan lintas kekuatan, dan mengelola perbedaan melalui negosiasi.

Bagi Golkar, politik tidak selalu harus dimulai dengan garis pemisah yang tegas antara kawan dan lawan. Politik juga dapat dijalankan sebagai seni menemukan ruang kerja sama di antara kepentingan yang berbeda. Dalam perspektif ini, kompromi bukan otomatis tanda kelemahan, sebagaimana oposisi tidak otomatis menjadi tanda kegagalan. Keduanya merupakan pilihan politik yang harus dinilai berdasarkan konteks, tujuan, dan dampaknya terhadap tata kelola demokrasi.

Tradisi kekuasaan dan pragmatisme yang terorganisasi

Untuk memahami karakter politik Golkar, sejarahnya tidak dapat dilepaskan dari pembentukannya sebagai Sekretariat Bersama Golongan Karya pada 1964 dan transformasinya menjadi kekuatan politik dominan pada masa Orde Baru. Golkar tumbuh melalui jaringan organisasi fungsional, profesi, birokrasi, dan kelompok masyarakat yang kemudian membentuk basis organisasinya. Dalam sistem politik Orde Baru, Golkar menjadi salah satu pilar utama kekuasaan negara.

Warisan sejarah itu membentuk pengalaman politik yang berbeda dari partai-partai yang mengidentifikasi diri terutama melalui tradisi oposisi. Golkar memiliki pengalaman panjang mengelola kekuasaan, membangun jaringan organisasi, bernegosiasi dengan pusat pemerintahan, dan mempertahankan relevansi di tengah perubahan rezim.

Setelah Reformasi 1998, sistem politik Indonesia berubah secara mendasar. Pemilu kompetitif, kebebasan mendirikan partai, pergantian pemerintahan, dan penguatan lembaga demokrasi mengubah cara partai mempertahankan pengaruh. Golkar tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan dominan seperti pada masa Orde Baru. Namun, pengalaman organisasinya dalam membangun koalisi dan beradaptasi terhadap perubahan tetap menjadi bagian penting dari karakter politiknya.

Karena itu, menyebut Golkar sebagai partai yang tidak pernah menjadi oposisi perlu diberi batas historis. Golkar pernah berada di luar pemerintahan setelah Pemilu Presiden 2014, ketika partai ini mendukung Prabowo Subianto–Hatta Rajasa melawan pasangan Joko Widodo–Jusuf Kalla. Akan tetapi, pada 2016, Golkar memutuskan mendukung pemerintahan Jokowi–Jusuf Kalla dan masuk ke dalam koalisi pemerintah. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kecenderungan kembali ke pemerintahan memang kuat, tetapi bukan berarti Golkar secara harfiah tidak pernah berada di luar kekuasaan.

Dari perspektif ilmu politik, pola tersebut dapat dipahami sebagai pragmatisme yang terorganisasi: kemampuan menyesuaikan posisi politik dengan konfigurasi kekuasaan, sembari mempertahankan identitas organisasi dan akses terhadap proses pengambilan keputusan.

Pragmatisme semacam ini tidak dengan sendirinya buruk. Dalam sistem multipartai, pemerintahan hampir selalu membutuhkan negosiasi antarkekuatan politik. Tanpa kompromi, pembentukan koalisi dapat terhambat, agenda legislasi sulit memperoleh dukungan, dan perbedaan kepentingan berpotensi berubah menjadi kebuntuan. Persoalannya bukan apakah kompromi diperlukan, melainkan untuk tujuan apa kompromi dibangun dan sejauh mana hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Mengapa Golkar memilih memperjelas dukungan lebih awal?

Dukungan kepada Prabowo untuk 2029 dapat dibaca melalui tiga lapisan analisis. Pertama, kesinambungan politik. Dengan memperjelas pilihan calon presiden, Golkar memberikan kepastian mengenai arah dasarnya tanpa harus menunggu seluruh konfigurasi koalisi terbentuk. Posisi ini juga selaras dengan pernyataan Doli bahwa Golkar saat ini berfokus membantu pemerintahan Prabowo–Gibran menjalankan program dan memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat.

Kedua, pengelolaan ketidakpastian. Pemilihan presiden Indonesia tidak hanya ditentukan oleh popularitas seorang kandidat. Prosesnya juga melibatkan dukungan partai, persyaratan pencalonan, kesepakatan antarelite, dan pembentukan pasangan calon. Dengan menetapkan calon presiden tetapi belum menetapkan calon wakil presiden, Golkar memisahkan keputusan mengenai arah politik dari negosiasi mengenai konfigurasi pasangan.

Ketiga, pemeliharaan ruang konsensus. Dalam koalisi multipartai, keputusan yang terlalu dini mengenai seluruh posisi dapat mempersempit ruang perundingan. Sebaliknya, komitmen terhadap calon presiden dapat dinyatakan lebih dahulu, sementara pembicaraan mengenai pasangan dan pembagian tanggung jawab politik tetap terbuka.

Ketiga lapisan ini merupakan pembacaan strategis atas keputusan yang diumumkan, bukan bukti bahwa seluruh motif internal Golkar telah diketahui. Yang dapat dipastikan adalah dukungan kepada Prabowo telah dinyatakan, sedangkan keputusan mengenai calon wakil presiden belum dibuat.

Di sinilah karakter politik Golkar terlihat: kepastian pada satu hal tidak harus berarti menutup seluruh kemungkinan pada hal lainnya. Dalam bahasa diplomasi, posisi prinsipil dan fleksibilitas negosiasi dapat berjalan beriringan.

Kompromi bukan berarti tanpa prinsip

Ada kecenderungan dalam perdebatan politik untuk menyamakan kompromi dengan oportunisme. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Kompromi adalah proses mempertemukan kepentingan yang berbeda melalui kesepakatan yang dapat diterima bersama. Oportunisme, sebaliknya, merujuk pada penyesuaian sikap demi keuntungan sesaat tanpa konsistensi prinsip yang memadai.

Perbedaannya terletak pada standar yang digunakan untuk mengambil keputusan. Kompromi yang sehat tetap memiliki batas konstitusional, tujuan kebijakan yang jelas, transparansi yang memadai, dan mekanisme pertanggungjawaban. Kompromi yang hanya bertujuan mempertahankan akses terhadap kekuasaan berisiko mengaburkan kepentingan publik di balik kesepakatan elite.

Dalam konteks Golkar, tradisi kerja sama dapat menjadi modal untuk menghubungkan berbagai kepentingan dalam pemerintahan. Pengalaman organisasi, jaringan politik, dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok dapat membantu mengurangi polarisasi yang tidak produktif.

Namun, kemampuan berkompromi juga membawa kewajiban. Partai yang memilih mendukung pemerintah harus tetap memiliki kapasitas untuk mengkritik kebijakan yang tidak efektif, mengoreksi pelaksanaan program, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat yang belum terakomodasi. Dukungan politik tidak seharusnya diartikan sebagai persetujuan tanpa syarat terhadap seluruh keputusan pemerintah.

Demokrasi yang sehat membutuhkan keduanya: pemerintahan yang mampu bekerja melalui dukungan politik yang memadai dan mekanisme pengawasan yang tidak kehilangan independensinya.

Konsensus dalam demokrasi multipartai

Dalam teori politik komparatif, konsensus merupakan salah satu mekanisme penting untuk mengelola masyarakat yang memiliki kepentingan beragam. Negara dengan sistem multipartai membutuhkan negosiasi karena tidak selalu ada satu partai yang dapat menguasai seluruh proses pemerintahan secara mandiri.

Indonesia memiliki karakter tersebut. Presiden memerlukan dukungan politik untuk menjalankan agenda legislasi dan kebijakan, sementara partai-partai perlu menjaga identitas, konstituen, serta kepentingan organisasinya. Koalisi menjadi instrumen untuk mempertemukan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Tetapi konsensus bukan sekadar banyaknya partai yang berada di dalam pemerintahan. Konsensus yang substantif membutuhkan kesepakatan mengenai arah kebijakan, pembagian tanggung jawab yang jelas, penghormatan terhadap aturan, dan ruang untuk berbeda pendapat.

Apabila semua partai berorientasi hanya pada pembagian posisi, konsensus berpotensi berubah menjadi kartelisasi politik—situasi ketika elite partai lebih sibuk mengamankan kepentingan bersama mereka daripada mempertahankan kompetisi dan akuntabilitas kepada pemilih. Kajian mengenai koalisi dan konflik internal partai di Indonesia menunjukkan bahwa pilihan masuk pemerintahan atau menjadi oposisi sering kali dipengaruhi pragmatisme kekuasaan, bukan semata-mata perbedaan platform ideologis.

Karena itu, politik titik temu tidak boleh berhenti pada kesepakatan antarelite. Ukuran akhirnya harus terletak pada apakah kesepakatan tersebut menghasilkan kebijakan yang lebih baik, memperkuat institusi, dan memberi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Ujian Golkar: Menjaga relevansi tanpa kehilangan independensi

Dukungan kepada Prabowo untuk 2029 menempatkan Golkar pada persimpangan antara kesinambungan dan pembaruan. Di satu sisi, partai dapat memanfaatkan hubungan kerja sama untuk ikut mengawal agenda pemerintahan. Di sisi lain, ia perlu memastikan bahwa identitas, kapasitas kader, dan fungsi representasinya tidak larut ke dalam kepentingan eksekutif.

Ujian ini semakin penting ketika politik nasional semakin dipengaruhi oleh personalisasi kepemimpinan. Dalam situasi seperti itu, kedekatan dengan figur dapat menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan, sementara kualitas institusi dan regenerasi kader berisiko ditempatkan di urutan berikutnya.

Materi Akademi Partai Golkar mengenai kaderisasi di era personalisasi dan politik biaya tinggi mengangkat persoalan yang relevan: partai tidak cukup hanya mampu memenangkan kompetisi, tetapi juga harus mampu membangun sistem pengembangan talenta, meritokrasi, dan regenerasi kepemimpinan. Presentasi itu menekankan bahwa kaderisasi semestinya menjadi mekanisme reproduksi organisasi dan kepemimpinan, bukan sekadar kegiatan pendidikan formal.

Kerangka tersebut memberikan ukuran tambahan bagi keputusan politik Golkar. Dukungan kepada calon presiden dapat menjadi pilihan elektoral, tetapi keberlanjutan partai bergantung pada kemampuan mengembangkan kader yang kompeten, menjaga integritas organisasi, dan menghasilkan kepemimpinan melalui mekanisme yang dapat diuji.

Jika konsensus politik tidak disertai institusionalisasi, partai berisiko menjadi terlalu bergantung pada hubungan dengan figur dan pusat kekuasaan. Sebaliknya, jika kerja sama pemerintahan berjalan bersama penguatan organisasi, konsensus dapat menjadi sarana untuk memperluas pengaruh kebijakan sekaligus menjaga kesinambungan kaderisasi.

Politik tanpa perang, tetapi tetap membutuhkan pengawasan

Karakter politik yang mengutamakan kompromi dan kerja sama memiliki relevansi di tengah polarisasi. Tidak semua perbedaan harus diubah menjadi konflik permanen. Tidak semua lawan dalam satu kontestasi harus diperlakukan sebagai musuh politik untuk selamanya. Dalam demokrasi, ruang negosiasi tetap diperlukan karena kepentingan masyarakat jauh lebih beragam daripada garis pembelahan antarkubu.

Namun, menghindari politik permusuhan tidak sama dengan menghilangkan perbedaan. Oposisi tetap memiliki fungsi demokratis: mengawasi pemerintah, menyampaikan alternatif kebijakan, dan menguji keputusan penguasa. Bahkan, kritik yang berbasis data dan kepentingan publik dapat memperkuat kualitas pemerintahan, bukan melemahkannya.

Karena itu, karakter kompromistis Golkar akan memiliki arti kelembagaan yang lebih luas apabila kerja sama politik tetap disertai keberanian mengoreksi kebijakan yang keliru. Konsensus seharusnya menghasilkan keputusan yang lebih baik, bukan membuat seluruh aktor politik kehilangan jarak kritis terhadap kekuasaan.

Bagi pemerintahan Prabowo, dukungan Golkar dapat dibaca sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan dukungan politik menuju 2029. Bagi Golkar, dukungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa partai yang berpengalaman dalam membangun koalisi dapat menerjemahkan kerja sama menjadi hasil kebijakan yang terukur. Kedua hal itu perlu diuji melalui pelaksanaan program, kualitas keputusan publik, dan pertanggungjawaban politik.

Narasihub Insight

Politik Golkar memperlihatkan sebuah tradisi yang menempatkan kerja sama, negosiasi, dan konsensus sebagai instrumen penting untuk menjaga relevansi organisasi di tengah perubahan konfigurasi kekuasaan. Dukungan kepada Prabowo pada 2029 mempertegas orientasi tersebut, sementara belum ditentukannya calon wakil presiden menunjukkan bahwa sebagian ruang perundingan masih terbuka.

Akan tetapi, nilai politik titik temu tidak ditentukan oleh seberapa banyak pihak yang berhasil dirangkul. Nilainya ditentukan oleh apa yang dihasilkan dari perangkulan itu. Kesepakatan yang memperkuat kebijakan publik, menjaga konstitusi, dan memperbaiki kehidupan masyarakat merupakan konsensus yang substantif. Sebaliknya, kesepakatan yang hanya mengamankan kepentingan elite akan kehilangan legitimasi publik sekalipun dibungkus dengan bahasa persatuan.

Golkar tidak harus menabuh genderang perang untuk menunjukkan relevansi politiknya. Namun, ia juga tidak boleh menjadikan perdamaian antarelite sebagai alasan untuk menghindari evaluasi dan kritik.

Pada akhirnya, politik bukan sekadar seni memperbanyak musuh, melainkan kemampuan menemukan titik temu di tengah perbedaan. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa titik temu itu tidak hanya menyatukan para pemegang kekuasaan, tetapi juga mendekatkan keputusan politik kepada kepentingan rakyat.

By azhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *