Opini Oleh Analis Politik Raden Hutagalung Baskoro

Gayanya yang koboy, ceplas ceplos, mampu menyederhanakan permasalahan yang rumit menjadi sederhana, meski kadang terlihat over confident, namun style dan bawaan seperti ini mendapat tempat di hati Netizen.. Terlepas di balik itu apakah by design atau natural terjadi..

Dialah Purbaya Yudi Sadewa, ex Menteri Keuangan yang konon katanya langsung di tunjuk Presiden Prabowo menggantikan the madam Sri Mulyani.

Terlepas dari segala issue yang berseliweran di sosial media, yang jelas hukum fisika popularitas dalam dunia politik kembali terjadi.

Siapa yang tiba tiba cepat naik popularitasnya, cenderung akan terjatuh dalam waktu yang cepat juga..

Jarang manusia Indonesia ini yang tahan, dan tidak goyang dalam menikmati ketenaran dan puja puji sosial media ini.. baik artis, ulama, atlit, hingga pejabat publik.

Ketenaran dan kepopuleran yang tiba-tiba, seakan melenakan manusia akan jati diri sebenarnya.. akhirnya yg terjadi mabuk di lautan, lupa daratan, karena membumbung tinggi di udara angan angan.

Inilah yang di sebut syndrom megalomania.. mendadak Hero, mendadak top, mendadak penting, dan mendadak tenar dimana mana..

Setidaknya, hal ini jugalah yang menimpa diri Purbaya dan keluarganya. Kalau di lihat dari gestur dan respon komentar di akun sosial medianya.

Purbaya lupa, diatas langit ada langit. Di Indonesia tak akan ada yang bisa berdiri sendiri.. Semua harus kolaborasi dan kompromi..

Bak kata pepatah ; Sepintar dan sebenar apapun kita jangan pernah langgar tiga pantangan ini ketika jadi pejabat publik. Yaitu ; Kalau pintar jangan menggurui, kalau tajam jangan melukai, kalau kencang jangan mendahului terhadap Bos, juragan, atau pimpinan kita..

Presiden Prabowo adalah bintang masa lalu yang saat ini jadi Presiden. Sebagai seorang militer, loyalitas, kesetiaan, sejarah pengabdian bagi beliau adalah utama.

Purbaya yang baru di kenal tahunan, langsung frontal membuat konfrontasi dengan orang2 yang selama ini puluhan, belasan tahun setia dan loyal pada Presiden Prabowo. Ini adalah pelanggaran dan kebablasan dong guys.. Terlepas dari siapa yang benar dan salah..

Dimata Istana, Purbaya seakan menganggap dirinya sudah sejajar bahkan seolah sama dengan Presiden ??? Tanpa kenal dialog, kompromi, dan mengambil keputusan se enak jidatnya.. Alias kaca mata kuda !

Inilah akibat syndrom megalomania yang kita bahas di atas.. Karena merasa diri sudah top, populis, tenar, dan di puja puja ??? Lupa akan asal usul dan jati dirinya..

Lupa bahwa jabatan itu hanya sementara. Lupa bahwa ini “Indonesia”, yang berbagai macam ragam karakter dan kepentingannya..

Mungkin Purbaya orang baik, tapi bukan berarti yang lain tidak baik ?? Dan menjadi pejabat publik yang memegang urat nadi ekonomi dan jantung negara itu tidak cukup hanya dengan kata “baik”, koboy”, lalu bisa berbuat se enaknya..?? Tanpa memandang etika ??

Setidaknya pengalaman “Purbaya Force down” ini, menjadi pengalaman untuk semua kita..

Bahwa saat ini, Indonesia tidak butuh Superman, tapi adalah Superteam… Yang siap bersama, berkolaborasi, bersinergi, saling memghormati untuk memajukan Negeri..

Setuju ??? Tulis komentar anda di kolom komentar…

By azhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *