Sebuah Refleksi Tauhid di Tengah Legenda
JAKARTA – Film horor Indonesia terus mencari cara baru untuk menyajikan teror yang berakar pada budaya lokal. Urang Bunian (2026) adalah salah satu yang berhasil melakukannya, bukan sekadar lewat jumpscare, melainkan melalui pembangunan atmosfer yang berangkat dari kekayaan mitologi Minangkabau. Disutradarai Rendy Herpy dan diproduksi DHF Entertainment bersama RH Entertainment, film berdurasi 88 menit ini tayang di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.
Namun, di balik premis horornya, Urang Bunian menyimpan hikmah yang jauh lebih mendalam: sebuah refleksi tentang batas-batas yang harus dihormati, tentang konsekuensi dari kesombongan, dan tentang tauhid sebagai fondasi utama dalam menyikapi dunia yang tak kasat mata.
Peringatan Datuk Hitam: Kearifan yang Berakar pada Tauhid
Film ini berpusat pada Teddy, seorang prajurit yang diperankan Dimas Aditya, yang melakukan perjalanan menuju kampung halaman istrinya di pedalaman Sumatera Barat bersama sahabatnya, Kevin (Fauzan Nasrul). Dalam perjalanan tersebut, keduanya telah diperingatkan untuk tidak melanjutkan perjalanan pada malam hari, namun memilih mengabaikannya karena alasan yang mereka anggap masuk akal. Peringatan itu datang dari Datuk Hitam, tetua adat sekaligus paman Annisa, yang dengan tegas melarang mereka melintasi hutan saat magrib tiba.
Adegan peringatan ini bukan sekadar pemanis naratif. Sutradara Rendy Herpy mengaku bahwa larangan “jangan keluar magrib-magrib apalagi di hutan, entar diculik sama urang bunian” adalah kalimat yang ia dengar sejak kecil di Sumatera. Ia bahkan menyebut film ini sebagai jawaban atas rasa penasarannya di masa kecil, dan menegaskan bahwa ia melakukan riset mendalam dengan bertanya kepada masyarakat setempat yang memiliki versi cerita masing-masing. Datuk Hitam, yang dalam film diperankan oleh DR. Anton Permana Datuak Hitam—sosok yang juga menjadi sumber ide cerita asli film ini—menjadi representasi kearifan lokal yang menyimpan pesan tauhid.
Tauhid dan Iman kepada yang Gaib
Hikmah Datuk Hitam sesungguhnya berakar pada konsep tauhid dalam Islam, khususnya iman kepada yang gaib. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang “beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan” (QS Al-Baqarah 2:3). Iman ini bukan sekadar penerimaan filosofis, melainkan keyakinan bahwa yang gaib itu benar-benar ada dan tunduk pada kekuasaan Allah.
Al-Qur’an memperkenalkan jin sebagai makhluk gaib yang memiliki kecerdasan, kehendak bebas, dan tanggung jawab keagamaan seperti manusia. Tujuan penciptaan mereka sama: untuk menyembah Allah (QS Adz-Dzariyat 51:56). Surah Al-Jin mengisahkan sekelompok jin yang mendengar bacaan Al-Qur’an lalu beriman dan menegaskan tauhid: “Kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, maka kami beriman kepadanya, dan kami sekali-kali tidak akan menyekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun” (QS Al-Jin 72:1-2).
Dalam konteks ini, peringatan Datuk Hitam bukanlah takhayul. Ia adalah pengingat bahwa ada dunia lain yang memiliki aturan sendiri, dan manusia tidak boleh merasa superior atasnya. Al-Qur’an bahkan memperingatkan bahwa sebagian manusia pernah meminta perlindungan kepada jin, dan itu justru menambah kesesatan: “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka menjadikan bertambah sesat” (QS Al-Jin 72:6). Film ini secara halus mengajarkan bahwa pertolongan hanya boleh diminta kepada Allah, bukan kepada kekuatan gaib.
Pelajaran untuk Kehidupan Sehari-hari
Hikmah Datuk Hitam dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan modern dengan cara yang sangat praktis. Pertama, menghormati batas waktu dan ruang. Larangan keluar saat magrib adalah metafora untuk menghargai batas-batas yang telah ditetapkan—baik batas waktu untuk beristirahat, beribadah, maupun batas ruang privasi orang lain. Dalam masyarakat tauhid, setiap tindakan dan keputusan diukur berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, bukan berdasarkan keinginan sesaat.
Kedua, menghindari kesombongan intelektual. Teddy, sebagai seorang prajurit dengan logika dan pengalaman fisik, merasa bisa mengatasi segala rintangan. Ia mengabaikan peringatan karena merasa superior. Ini adalah cerminan kesombongan manusia modern yang merasa teknologi dan rasionalitas bisa mengatasi segalanya. Dalam kearifan tauhid, kesombongan adalah pintu kehancuran, dan kerendahan hati adalah kunci keselamatan.
Ketiga, memahami konsekuensi dari pelanggaran. Film ini dengan tegas menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap aturan—baik aturan adat maupun aturan Ilahi—membawa konsekuensi nyata. Seperti yang dicatat dalam sinopsis, keputusan Teddy dan Kevin untuk melanjutkan perjalanan “menjadi awal mimpi buruk” ketika mereka tersesat di wilayah misterius yang diyakini sebagai dunia Urang Bunian.
Film Nasional sebagai Medium Refleksi Tauhid
Urang Bunian adalah contoh cemerlang bagaimana film horor nasional dapat menjadi medium pembelajaran yang mendalam. Ia tidak hanya menakut-nakuti, tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Media Indonesia mencatat bahwa film ini “mencoba mempertemukan mitologi dan urban legend yang telah dikenal masyarakat dengan pendekatan sinematik modern”.
Yang membuat film ini istimewa adalah kemampuannya membangun teror dari pertemuan antara manusia, hutan, budaya lokal, dan dunia lain yang dipercaya hidup berdampingan. Urang Bunian dalam film ini bukan sekadar “hantu hutan”, melainkan entitas yang punya aturan, wilayah, dan cara sendiri dalam menghukum manusia yang melanggar pantangan adat. Ini sejalan dengan pesan tauhid bahwa alam gaib adalah realitas yang tunduk pada hukum Allah, dan manusia tidak boleh melampaui batas yang telah ditetapkan.
Narasihub Insight
Pada akhirnya, hikmah Datuk Hitam adalah pengingat abadi bahwa hidup ini memiliki batas-batas yang harus dihormati. Film Urang Bunian mengajarkan bahwa tauhid adalah fondasi, kesombongan adalah pintu kehancuran, dan kearifan lokal adalah harta yang dapat menjadi cermin untuk memahami hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Sebagai film nasional, ia berhasil membuktikan bahwa horor dapat menjadi medium dakwah dan refleksi tauhid—bukan dengan ceramah, tetapi dengan menghadirkan teror yang berakar pada kenyataan bahwa ada dunia lain di luar jangkauan indra kita, dan dunia itu tunduk pada kekuasaan Allah semata.
