BALIKPAPAN – Ada kota yang membangun dirinya dengan gedung-gedung tinggi. Ada pula kota yang membangun masa depannya melalui jalan, kawasan industri, dan pusat perdagangan. Namun Balikpapan memiliki tantangan yang berbeda. Sebagai salah satu kota strategis di Kalimantan Timur dan salah satu pintu utama menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan tidak cukup hanya tumbuh secara ekonomi. Kota ini juga dituntut mampu menjaga kualitas lingkungan hidupnya.
Di titik inilah gebrakan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menjadi menarik untuk diperhatikan. Pada periode pemerintahan 2025–2030, agenda kebersihan, lingkungan, pengendalian banjir, air bersih, dan pembangunan infrastruktur tidak lagi dapat dipandang sebagai program yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari satu persoalan besar: bagaimana menjadikan Balikpapan sebagai kota yang mampu tumbuh tanpa kehilangan kualitas lingkungan dan kenyamanan hidup warganya. Rahmad Mas’ud sendiri sejak awal periode keduanya menempatkan sejumlah persoalan dasar seperti infrastruktur, air bersih, pengendalian banjir, serta lingkungan sebagai bagian penting dari agenda pembangunan kota.
Dari Kota Bersih Menuju Kota Berketahanan
Selama ini Balikpapan memiliki identitas kuat sebagai salah satu kota yang relatif tertata dan memiliki perhatian tinggi terhadap kebersihan lingkungan. Namun tantangan lingkungan hari ini sudah jauh lebih kompleks.
Sampah bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Hujan ekstrem meningkatkan risiko banjir. Kebutuhan air bersih terus meningkat. Tekanan terhadap ruang terbuka hijau semakin besar. Sementara itu, perkembangan kawasan sekitar IKN membawa konsekuensi baru terhadap mobilitas, permukiman, perdagangan, industri, dan penggunaan lahan.
Karena itu, ukuran keberhasilan kota tidak boleh berhenti pada pertanyaan apakah jalan-jalannya bersih atau taman-tamannya indah. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kota mampu bertahan ketika tekanan lingkungan meningkat?
Di sinilah paradigma pembangunan Balikpapan perlu bergerak dari clean city menuju resilient city—kota yang bersih sekaligus memiliki kemampuan menghadapi perubahan iklim, tekanan urbanisasi, bencana hidrometeorologi, krisis air, dan persoalan sampah.
Gebrakan Besar Dimulai dari Sampah
Salah satu perkembangan menarik adalah penguatan pengelolaan sampah dari sumbernya. TPST Karang Joang menjadi contoh bagaimana pendekatan tersebut mulai menghasilkan model yang berbeda.
Pada Agustus 2026, TPST Karang Joang dilaporkan mampu mengolah sekitar 80 persen sampah yang masuk, sementara hanya sekitar 20 persen yang menjadi residu dan dikirim ke TPA Manggar. Kapasitas pengolahan fasilitas tersebut sekitar lima ton sampah per hari. Sampah organik diolah menjadi kompos dan bahan pakan maggot, sementara material anorganik seperti plastik dipilah dan diproses kembali sehingga mempunyai nilai ekonomi.
Angka tersebut penting bukan semata-mata karena 80 persen sampah berhasil dikelola. Yang lebih penting adalah perubahan cara berpikir di baliknya.
Sampah tidak lagi dipandang hanya sebagai sesuatu yang harus diangkut dari rumah warga menuju tempat pembuangan akhir. Sampah mulai diperlakukan sebagai sumber daya yang dapat dipilah, diolah, digunakan kembali, bahkan menghasilkan nilai ekonomi.
Inilah yang disebut ekonomi sirkular.
Jika pendekatan semacam ini dapat diperluas ke seluruh kecamatan, Balikpapan bukan hanya akan menjadi kota yang lebih bersih, tetapi juga kota yang mampu mengurangi beban TPA sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru berbasis masyarakat.
Pemerintah Kota Balikpapan bahkan mulai mendorong agar model pengelolaan sampah berbasis kawasan tersebut dapat diperluas ke enam kecamatan.
Dari Sampah Menjadi Energi
Gebrakan berikutnya adalah upaya menghubungkan persoalan sampah dengan energi.
Pada April 2026, Rahmad Mas’ud mengikuti koordinasi percepatan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah ini menunjukkan bahwa persoalan sampah mulai ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas: bukan hanya persoalan kebersihan kota, tetapi juga persoalan energi, teknologi, dan ekonomi.
Skalanya memang besar. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat timbulan sampah Balikpapan Raya sekitar 560 ton per hari, dengan sekitar 540 ton berasal dari Kota Balikpapan. Rencana PSEL diarahkan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 520 ton per hari.
Tetapi teknologi bukan satu-satunya jawaban.
PSEL akan jauh lebih efektif apabila dibangun bersama budaya pemilahan sampah dari rumah, penguatan bank sampah, TPST berbasis komunitas, pengurangan sampah plastik, serta sistem ekonomi sirkular. Dengan kata lain, teknologi berada di hilir, sementara perubahan perilaku masyarakat berada di hulu.
Karena itu, gebrakan Rahmad Mas’ud seharusnya dibaca sebagai upaya membangun rantai nilai lingkungan, bukan sekadar membangun fasilitas pengolahan sampah.
Lingkungan sebagai Infrastruktur Kehidupan
Ada satu hal yang sering dilupakan dalam pembangunan kota: lingkungan sebenarnya adalah infrastruktur paling dasar.
Jalan adalah infrastruktur mobilitas. Pelabuhan adalah infrastruktur perdagangan. Gedung adalah infrastruktur aktivitas ekonomi. Tetapi hutan kota, daerah resapan, sungai, drainase, air bersih, udara bersih, dan sistem pengelolaan sampah adalah infrastruktur yang menentukan apakah seluruh sistem kehidupan kota dapat berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, pengendalian banjir tidak boleh hanya dilihat sebagai proyek drainase. Air bersih tidak cukup dilihat sebagai pembangunan jaringan perpipaan. Kebersihan tidak cukup diukur dari jumlah armada pengangkut sampah.
Semuanya harus dilihat sebagai satu sistem ekologis.
Balikpapan membutuhkan kota yang mampu menyerap air, menyimpan air, mengelola air, mengurangi sampah, menjaga ruang hijau, dan memastikan aktivitas ekonomi tidak merusak daya dukung lingkungan.
Inilah tantangan kepemimpinan Rahmad Mas’ud pada periode 2025–2030.
Balikpapan dan Tekanan Era IKN
Posisi Balikpapan membuat persoalan ini menjadi semakin strategis.
IKN membawa peluang ekonomi yang besar bagi Kalimantan Timur. Mobilitas manusia, investasi, perdagangan, jasa, logistik, pariwisata, dan berbagai kegiatan ekonomi akan terus berkembang. Balikpapan berada pada posisi penting sebagai salah satu simpul utama ekosistem tersebut.
Namun setiap pertumbuhan selalu mempunyai harga ekologis apabila tidak dikelola dengan baik.
Semakin banyak manusia berarti semakin banyak konsumsi. Semakin banyak aktivitas ekonomi berarti semakin besar produksi limbah. Semakin banyak pembangunan berarti semakin besar kebutuhan terhadap air, energi, lahan, dan transportasi.
Karena itu, Balikpapan jangan sampai menjadi kota yang hanya menanggung dampak pertumbuhan IKN, tetapi harus menjadi kota yang mampu memperoleh manfaat ekonomi sekaligus menjaga daya dukung ekologisnya.
Di sinilah konsep green growth menjadi relevan.
Pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama pengurangan sampah, efisiensi energi, perlindungan kawasan hijau, penguatan transportasi publik, konservasi air, serta ekonomi sirkular.
Gebrakan yang Harus Naik Kelas
Rahmad Mas’ud memiliki kesempatan untuk membawa agenda kebersihan Balikpapan naik satu tingkat.
Jika sebelumnya ukuran keberhasilan adalah “kota yang bersih”, maka target berikutnya dapat dinaikkan menjadi “kota yang bersih, hijau, sehat, dan tangguh menghadapi krisis.”
Visi tersebut dapat diterjemahkan melalui lima agenda besar.
Pertama, Clean City, dengan memperkuat pengelolaan sampah dari sumber dan memperluas model TPST berbasis kawasan.
Kedua, Green City, melalui perlindungan ruang terbuka hijau, penghijauan kawasan perkotaan, rehabilitasi lingkungan, dan pembangunan infrastruktur hijau.
Ketiga, Blue City, dengan memperkuat perlindungan pesisir, sungai, drainase, sumber air, dan ekosistem perairan.
Keempat, Circular City, dengan mengubah sampah menjadi kompos, maggot, material daur ulang, energi, serta sumber pendapatan masyarakat.
Kelima, Resilient City, dengan memperkuat sistem mitigasi banjir, ketahanan air, kesiapsiagaan bencana, dan adaptasi perubahan iklim.
Jika lima agenda ini berjalan bersama, Balikpapan tidak hanya akan mempunyai wajah kota yang lebih bersih. Kota ini dapat menjadi laboratorium pembangunan perkotaan yang relevan bagi Indonesia masa depan.
Lingkungan Harus Menjadi Gerakan Ekonomi
Hal yang paling menarik dari pendekatan baru pengelolaan lingkungan adalah potensinya menciptakan ekonomi baru.
Bank sampah dapat menjadi unit ekonomi masyarakat. Sampah organik dapat menjadi kompos. Sisa makanan dapat menjadi bahan maggot. Plastik dapat menjadi material bernilai jual. Ruang hijau dapat mendukung urban farming. Teknologi dapat digunakan untuk mengukur volume sampah, kualitas lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, kebijakan lingkungan tidak selalu identik dengan biaya. Sebaliknya, apabila dirancang dengan benar, lingkungan dapat menjadi sumber produktivitas baru. Inilah titik temu antara kebijakan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Kota yang berhasil bukan hanya kota yang mampu membuang sampah dengan cepat, tetapi kota yang mampu mengurangi sampah, mengolahnya, dan menciptakan nilai dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Narasihub Insight
Pada akhirnya, gebrakan seorang kepala daerah tidak hanya diukur dari banyaknya proyek yang dibangun selama masa jabatan. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan sistem yang ditinggalkan. Rahmad Mas’ud memiliki peluang untuk meninggalkan sebuah warisan kebijakan yang lebih besar: menjadikan Balikpapan sebagai contoh bagaimana kota minyak bertransformasi menjadi kota modern yang berbasis ekonomi hijau dan ketahanan lingkungan.
Balikpapan 2030 tidak harus dikenal hanya sebagai kota penyangga IKN. Balikpapan dapat dikenal sebagai kota yang mampu mengubah tekanan lingkungan menjadi inovasi, sampah menjadi ekonomi, ruang hijau menjadi aset, dan pertumbuhan menjadi kesejahteraan yang berkelanjutan. Karena masa depan kota bukan hanya tentang seberapa tinggi gedung dibangun atau seberapa panjang jalan diperlebar. Masa depan kota ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: apakah generasi berikutnya masih dapat hidup dengan nyaman di dalamnya?
Jika jawabannya ingin tetap “ya”, maka gebrakan kebersihan yang sedang didorong Pemerintah Kota Balikpapan harus terus berkembang menjadi gerakan besar: dari kota bersih menuju Balikpapan sebagai Green, Circular and Resilient City. Dan di situlah kepemimpinan Rahmad Mas’ud akan diuji—bukan hanya dalam membangun kota hari ini, tetapi dalam memastikan bahwa Balikpapan tetap layak dihuni, sehat, produktif, dan tangguh untuk generasi yang akan datang.
