TANGSEL – Di sudut rumah, sering kali tersimpan barang-barang yang masih layak digunakan, tetapi sudah lama tidak disentuh. Pakaian yang ukurannya tak lagi pas, buku yang selesai dibaca, perlengkapan bayi yang tak lagi digunakan, hingga peralatan elektronik yang masih berfungsi. Bagi sebagian orang, barang-barang itu mungkin hanya memenuhi lemari atau gudang. Namun bagi orang lain, barang yang sama bisa menjadi jawaban atas kebutuhan yang selama ini belum mampu mereka penuhi.

Berangkat dari kesadaran sederhana itulah Givree.id hadir.

Lebih dari sekadar platform berbagi barang gratis, Givree.id adalah sebuah gerakan filantropi yang menghubungkan mereka yang memiliki kelebihan dengan mereka yang sedang membutuhkan. Filosofinya sederhana namun kuat: barang yang berhenti digunakan tidak seharusnya berakhir menjadi sampah, melainkan dapat memulai kehidupan baru di tangan orang lain.

Di balik lahirnya gerakan sosial ini, terdapat sosok Marlisa Kurniaty, yang akrab disapa Lisa, sebagai penggagas sekaligus pengelola Givree.id.

Yang membuat kisah ini semakin inspiratif adalah bahwa Givree.id tidak dibangun oleh seseorang yang memiliki banyak waktu luang. Lisa sehari-harinya menjabat sebagai General Manager di sebuah perusahaan alih daya (outsourcing) lokal di Jakarta Barat. Posisi tersebut menuntut tanggung jawab besar, ritme kerja yang tinggi, serta kemampuan mengambil keputusan dalam berbagai dinamika operasional perusahaan.

Namun, di tengah kesibukan profesionalnya, Lisa justru membuktikan bahwa kepedulian sosial tidak harus menunggu seseorang memiliki waktu yang lebih longgar atau sumber daya yang berlimpah.

Ia berhasil mewujudkan sebuah ruang berbagi yang mempertemukan ribuan orang melalui satu tujuan yang sama: memberikan kehidupan kedua bagi barang-barang yang masih layak pakai sekaligus membantu mereka yang membutuhkan.

Berbagi Tanpa Harga, Memberi Tanpa Pamrih

Yang membedakan Givree.id dari platform jual beli pada umumnya adalah satu prinsip yang dijaga secara konsisten: seluruh barang diberikan secara gratis.

Tidak ada transaksi jual beli.
Tidak ada proses tawar-menawar.
Tidak ada keuntungan finansial.

Seluruh barang diperuntukkan bagi penggunaan pribadi, bukan untuk diperjualbelikan kembali.

Bagi Lisa, nilai sebuah barang bukan terletak pada harga yang tercantum ketika dibeli, melainkan pada manfaat yang masih dapat diberikan kepada orang lain.

Karena itu, setiap barang yang dibagikan melalui Givree.id sesungguhnya membawa harapan baru.

Sebuah meja belajar dapat membantu seorang anak belajar lebih nyaman.

Sebuah laptop bekas dapat menjadi sarana seorang mahasiswa menyelesaikan skripsinya.

Perlengkapan bayi yang sudah tidak digunakan satu keluarga dapat meringankan beban keluarga lain yang baru menyambut kelahiran buah hati.

Dari Rumah ke Rumah, dari Hati ke Hati

Mekanisme Givree.id dibuat sederhana agar semangat berbagi dapat dilakukan siapa saja.

Masyarakat cukup mengunggah barang yang masih layak pakai untuk didonasikan. Sementara mereka yang membutuhkan dapat menghubungi pemberi melalui pesan langsung (DM), melampirkan identitas serta alamat lengkap. Barang diberikan secara cuma-cuma, sedangkan penerima hanya menanggung biaya pengiriman.

Di balik mekanisme yang sederhana tersebut tersimpan nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar perpindahan barang.

Yang berpindah bukan hanya sebuah benda, tetapi juga rasa percaya, empati, dan kepedulian antarsesama.

Menjawab Dua Persoalan Sekaligus

Menurut Lisa, Givree.id lahir dari dua persoalan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Di satu sisi, banyak keluarga memiliki barang yang masih sangat layak digunakan tetapi akhirnya hanya menumpuk di rumah atau bahkan berakhir menjadi sampah.

Di sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang sebenarnya membutuhkan barang tersebut, namun terkendala kondisi ekonomi untuk membelinya.

Givree.id hadir sebagai jembatan yang mempertemukan kedua kebutuhan tersebut.

Melalui pendekatan ini, gerakan yang dibangun Lisa tidak hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah rumah tangga melalui prinsip reuse dan circular economy, yaitu memperpanjang umur pakai barang agar tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kepemimpinan yang Menginspirasi

Perjalanan Lisa menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari keberhasilan mengelola organisasi atau mencapai target bisnis.

Kepemimpinan juga tercermin dari kemampuan menciptakan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.

Sebagai seorang General Manager, Lisa memimpin perusahaan dengan profesionalisme. Namun di luar pekerjaannya, ia memilih memimpin sebuah gerakan yang dibangun atas dasar empati dan semangat berbagi.

Keduanya berjalan berdampingan.

Pengalaman memimpin tim di dunia korporasi justru menjadi bekal penting dalam membangun sistem, menjaga kepercayaan para pengguna, serta memastikan Givree.id dapat terus berkembang sebagai platform yang bermanfaat bagi masyarakat.

Lebih dari Platform, Sebuah Gerakan Kemanusiaan

Bagi Lisa, keberhasilan Givree.id bukan diukur dari berapa banyak barang yang berhasil dibagikan.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak orang menyadari bahwa memberi tidak selalu harus dimulai dengan uang.

Kadang-kadang, membuka lemari, memilih barang yang sudah lama tidak digunakan, lalu memberikannya kepada orang lain, dapat menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Satu barang mungkin tampak sederhana.

Namun ketika berpindah ke tangan yang tepat, ia dapat menghadirkan harapan, meringankan beban, bahkan mengembalikan senyum bagi sebuah keluarga.

Di tengah budaya konsumsi yang terus meningkat, Givree.id mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga tentang membangun kepedulian sosial.

Dan melalui inisiatif yang digagas Marlisa Kurniaty, sebuah gerakan sederhana telah membuktikan bahwa kebaikan adalah sumber daya yang tidak akan pernah habis ketika dibagikan.

Karena pada akhirnya, setiap barang memiliki kesempatan untuk hidup kembali.

Dan setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan.

By azhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *