JAKARTA — Sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) Indonesia memasuki babak baru dengan serangkaian kebijakan struktural yang menyentuh hulu hingga hilir. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tengah menata ulang tata kelola batu bara dan nikel melalui pengendalian supply-demand, pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS), serta skema ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). “Harga nikel sekarang mulai tidak lagi dipermainkan secara leluasa oleh orang-orang tertentu. Inilah sebenarnya tujuan kita,” ujar Bahlil. Sejalan dengan itu, rencana pengembangan bensin dari batu bara (coal-to-liquid) yang digagas Presiden Prabowo Subianto menambah dimensi baru ketahanan energi nasional. Pasar logam mulia pun bergerak dinamis, dengan harga emas Antam yang terus menguat di tengah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Tata Kelola Minerba: Supply Discipline dan Ekspor Satu Pintu
Pemerintah telah merancang arsitektur baru perdagangan komoditas strategis melalui dua instrumen utama: Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) dan skema ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). OJK telah menerbitkan kerangka regulasi BMKS yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu Peraturan Presiden yang mengatur jenis mineral dan komoditas strategis yang dapat diperdagangkan di BMKS. “Seluruh infrastruktur saat ini sedang kami siapkan, baik itu sistem pengawasannya maupun SDM,” ujarnya. Peralihan kewenangan dari Bappebti ke OJK diproyeksikan berlaku penuh pada 1 Januari 2027, bertepatan dengan operasional BMKS.
Sementara itu, skema ekspor satu pintu DSI diterapkan secara bertahap sejak Juni 2026, dengan tahap awal mencakup batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy. Implementasi penuh ditargetkan pada 1 Januari 2027. DSI telah mulai beroperasi pada 1 Juni 2026 dan telah membangun visibilitas analitis terhadap sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248,29 triliun.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mengingatkan agar kebijakan ekspor satu pintu tidak hanya berorientasi pada pengelolaan devisa, tetapi juga dijadikan instrumen strategis untuk mempercepat hilirisasi dan industrialisasi nasional. “Pemerintah perlu menjadikan DSI sebagai instrumen pengendalian volume ekspor yang terhubung langsung dengan agenda industrialisasi nasional,” katanya.
PNBP Minerba Naik Meski Produksi Batu Bara Turun
Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) subsektor minerba mencapai Rp108,13 triliun hingga Agustus 2026, naik sekitar Rp21 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp87 triliun. Pada komoditas batu bara, PNBP hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp66 triliun, meningkat dibandingkan Rp59 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan PNBP ini terjadi justru ketika produksi batu bara lebih rendah: produksi hingga Juli 2026 tercatat 423,71 juta ton atau rata-rata sekitar 60,5 juta ton per bulan, turun dibandingkan rata-rata produksi 2025 yang sekitar 68,1 juta ton per bulan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa pendekatan yang diadopsi adalah optimum production. “Produksi ini harus diseimbangkan dengan pasar, kebutuhan pasar, DMO, kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan,” ujarnya. Adapun PNBP komoditas nikel hingga 31 Agustus 2026 tercatat Rp21 triliun, meningkat signifikan dibandingkan Rp10 triliun pada periode yang sama 2025.
Bahlil menekankan bahwa orientasi pengelolaan minerba ke depan tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi. “Orientasinya bukan hanya berapa banyak yang kita produksi, tetapi berapa besar nilai tambah yang kita dapatkan atau kita ciptakan dari industri pertambangan,” katanya.
Cadangan Nikel RI Terancam Habis dalam 10 Tahun
Di tengah upaya penguatan tata kelola, muncul peringatan serius mengenai keberlanjutan cadangan nikel nasional. Komisaris Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Prof. Irwandy Arif mengungkapkan bahwa cadangan nikel Indonesia berpotensi menipis dalam waktu sekitar 10 tahun apabila tidak dikelola dengan baik. “Kemungkinan kalau kita tidak mengelola dengan baik, dalam 10 tahun cadangan nikel kita akan habis,” ujarnya dalam Annual Business Meeting 2026 di Jakarta.
Pada tingkat produksi sekitar 735 juta ton, umur cadangan saprolit diperkirakan hanya sekitar enam tahun, sedangkan limonit sekitar 16 tahun. Peningkatan kapasitas produksi smelter turut mempercepat pemanfaatan cadangan nasional. Pasar nikel global sendiri diproyeksikan beralih dari surplus menjadi defisit mulai 2028, dengan permintaan diproyeksikan mencapai sekitar 5,7 juta ton pada 2040, terutama didorong oleh kendaraan listrik dan sektor energi bersih.
Irwandy juga menyoroti bahwa Indonesia masih dominan berada di tahap produk antara (intermediate product) dan belum memperoleh nilai tambah maksimum dari produk akhir, termasuk baterai. “Kita masih berada di tengah. Kita baru menuju ke industrialisasi. Jadi, kita masih belum mendapatkan nilai tambang yang maksimum,” katanya. Penguatan integrasi industri, pemanfaatan tailing, serta penerapan ESG dinilai penting agar nilai ekonomi sumber daya tidak berhenti pada penambahan kapasitas smelter.
Prabowo Bidik Bensin dari Batu Bara untuk Tekan Impor BBM
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pengembangan bensin dari batu bara melalui teknologi coal-to-liquid (CTL) sebagai bagian dari upaya menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Rencana tersebut disampaikan pada 19 September di Ponorogo, Jawa Timur, dengan merujuk pada keberhasilan program biodiesel B50 yang membuat Indonesia berhenti mengimpor solar sejak 1 Juli 2026. “Profesor dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan nanti kita juga akan bikin bensin dari batu bara,” ujar Prabowo.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa kementeriannya akan menindaklanjuti arahan tersebut dan menyebut batu bara kalori rendah secara teknis dapat diolah menjadi gas maupun bahan bakar cair. Sejumlah perusahaan disebut telah menawarkan teknologi pengolahan, tetapi skala proyek, nilai investasi, target produksi, dan jadwal komersial belum diumumkan. Proses CTL menuntut belanja modal dan biaya operasional yang besar, menjadikan kelayakan ekonomi sebagai tantangan utama.
Harga Emas Rebound Seiring Turunnya Minyak dan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Di pasar logam mulia, harga emas spot naik 1,2% menjadi US$4.393,31/oz, melanjutkan rebound setelah sebelumnya menyentuh level terendah hampir enam pekan. Emas kembali menembus rata-rata pergerakan 100 hari, sementara ETF berbasis emas tetap mencatat arus masuk meski harga bergejolak. The Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 bps ke kisaran 3,75%–4,00%, kenaikan pertama sejak 2023. Meski demikian, penurunan imbal hasil Treasury dan harga minyak membantu mengurangi tekanan terhadap emas. Brent turun hampir 2% menjadi US$104,08/barel pada 17 September seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan Timur Tengah. Pasar masih memperkirakan peluang sekitar 51% untuk kenaikan suku bunga lagi pada Oktober.
Perak spot naik 2,5% menjadi US$66,82/oz setelah melonjak 3,6% sehari sebelumnya, sementara platinum dan palladium juga menguat. Di Indonesia, emas Antam naik Rp25.000 menjadi Rp2.623.000 per gram, sedangkan harga buyback bertambah Rp20.000 menjadi Rp2.458.000 per gram. Penguatan berlanjut selama empat hari berturut-turut dengan akumulasi kenaikan mencapai Rp46.000 per gram sejak 16 September, membawa harga emas Antam ke level Rp2.638.000 per gram pada 19 September.
Narasihub Insight
Rangkaian kebijakan yang tengah berjalan menegaskan posisi Indonesia sebagai aktor utama dalam tata kelola komoditas strategis global. Namun, tantangan tetap signifikan: keberhasilan BMKS sebagai pusat pembentukan harga akan sangat bergantung pada likuiditas pasar, partisipasi pelaku usaha, dan kondisi supply-demand global. Di sisi lain, peringatan mengenai umur cadangan nikel menjadi alarm bahwa ekspansi hilirisasi harus berjalan seiring dengan strategi keberlanjutan cadangan jangka panjang. Sementara itu, pasar emas masih akan diwarnai ketidakpastian kebijakan moneter The Fed, dengan potensi pengetatan lanjutan menjadi risiko utama bagi pergerakan harga logam mulia dalam beberapa bulan mendatang.
