NEGARA DIPA – Ada sebuah ungkapan Latin yang telah bertahan melewati zaman: Scripta manent, verba volant. Secara harfiah, ungkapan ini berarti “yang tertulis tetap tinggal, sementara yang terucap akan terbang.” Kalimat yang sederhana itu sesungguhnya menyimpan makna yang sangat dalam tentang manusia, waktu, dan sejarah. Apa yang kita ucapkan hari ini mungkin akan lenyap bersama suara, tertiup angin, atau perlahan hilang dari ingatan. Tetapi apa yang kita tuliskan dapat bertahan jauh lebih lama daripada usia manusia yang menuliskannya. Sebuah tulisan dapat melewati kematian penulisnya, dibaca oleh orang yang bahkan belum lahir ketika kalimat itu pertama kali ditulis, menjadi dokumen, kesaksian, sumber pengetahuan, bahkan bahan bagi generasi berikutnya untuk memahami bagaimana manusia pada suatu zaman berpikir, bermimpi, mengambil keputusan, dan menghadapi persoalan hidup.

Karena itu, sejarah pada dasarnya bukan hanya tentang masa lalu. Sejarah adalah percakapan panjang antara masa lalu dan masa depan. Apa yang kita baca hari ini tentang kehidupan manusia ratusan atau ribuan tahun lalu merupakan hasil dari jejak yang ditinggalkan generasi sebelumnya. Prasasti, manuskrip, kitab, surat, arsip, catatan perjalanan, karya sastra, hingga dokumen pemerintahan telah membantu manusia memahami bagaimana sebuah peradaban tumbuh, menghadapi konflik, membangun pengetahuan, mengalami kehancuran, lalu bangkit kembali. Dan hari ini, kita pun sedang menulis bagian dari percakapan panjang tersebut.

Kemarin sudah tidak dapat kita ubah. Ia telah menjadi peristiwa, pengalaman, keberhasilan, kegagalan, kemenangan, kehilangan, bahkan kesalahan. Kita dapat menyesalinya, mempelajarinya, atau menafsirkannya kembali, tetapi kita tidak dapat kembali ke masa lalu untuk mengubah satu detik pun. Itulah sebabnya sejarah mempunyai dua wajah. Bagi sebagian orang, sejarah adalah sesuatu yang telah selesai. Namun bagi bangsa yang ingin maju, sejarah justru merupakan cermin untuk memahami hari ini. Bangsa yang melupakan sejarah akan kehilangan ingatan, tetapi bangsa yang hanya hidup dalam sejarah juga berisiko kehilangan masa depan. Kita tidak mungkin selamanya membicarakan apa yang pernah terjadi tanpa bertanya apa yang harus dilakukan setelahnya.

Kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu contoh paling jelas. Kemerdekaan bukan hanya sebuah peristiwa pada 17 Agustus 1945. Di balik tanggal tersebut terdapat perjalanan panjang yang melibatkan pendidikan, organisasi, perlawanan, gagasan, pengorbanan, diplomasi, dan keberanian. Para pendiri bangsa menulis cita-cita mereka pada saat masa depan belum memberikan kepastian. Mereka tidak mengetahui secara pasti seperti apa Indonesia beberapa dekade kemudian. Mereka tidak tahu bagaimana teknologi akan berkembang, bagaimana ekonomi dunia akan berubah, atau bagaimana generasi setelah mereka menjalani kehidupan. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih penting daripada kepastian: harapan.

Jika kemarin adalah sejarah, maka hari ini adalah harapan yang belum selesai ditulis. Kita sering menganggap hari ini sebagai sesuatu yang biasa. Kita bangun, bekerja, belajar, mengurus keluarga, menghadapi persoalan, menyelesaikan pekerjaan, kemudian tidur dan mengulanginya kembali esok hari. Padahal, dari sudut pandang sejarah, setiap hari adalah halaman baru. Tidak ada seorang pun yang tahu sepenuhnya bagaimana hari ini akan dikenang 20, 50, atau 100 tahun mendatang. Bisa jadi keputusan kecil yang kita anggap tidak penting justru menjadi bagian dari perubahan besar di masa depan.

Seorang guru yang mengajarkan satu anak dengan sungguh-sungguh mungkin sedang membentuk seorang pemimpin. Seorang petani yang mempertahankan produktivitas tanahnya mungkin sedang membantu menjaga ketahanan pangan generasi berikutnya. Seorang pengembang teknologi yang menciptakan sebuah sistem sederhana mungkin sedang membangun sesuatu yang kelak digunakan jutaan orang. Seorang penulis yang mencatat sebuah peristiwa secara jujur mungkin sedang menyelamatkan ingatan sebuah generasi. Karena itu, jangan pernah meremehkan hari ini. Hari ini adalah satu-satunya waktu yang masih berada di tangan kita.

Harapan sering kali terlihat kecil. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk pidato besar, kebijakan monumental, atau peristiwa yang masuk halaman depan surat kabar. Kadang harapan hanya berupa seorang anak desa yang ingin sekolah lebih tinggi, seorang ibu yang ingin anaknya memiliki kehidupan lebih baik, seorang petani yang berharap hasil panennya cukup untuk menyekolahkan anak, seorang anak muda yang percaya bahwa ia mampu membangun perusahaan sendiri, atau sebuah bangsa yang percaya bahwa masa depannya dapat lebih baik daripada masa lalunya. Namun hampir setiap perubahan besar dalam sejarah bermula dari sesuatu yang pada awalnya terlihat kecil, yaitu keyakinan bahwa keadaan tidak harus selalu seperti sekarang.

Harapan adalah keberanian untuk membayangkan sesuatu yang belum terjadi. Karena itu, harapan memiliki kekuatan sosial, ekonomi, politik, bahkan peradaban. Bangsa yang kehilangan harapan mungkin masih memiliki gedung tinggi, jalan raya, teknologi canggih, dan pertumbuhan ekonomi, tetapi jika rakyatnya tidak lagi percaya bahwa masa depan mereka akan lebih baik, pembangunan perlahan kehilangan jiwanya. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki harapan akan terus mencari jalan keluar, meskipun menghadapi keterbatasan.

Sejarah juga mengajarkan bahwa perubahan besar hampir tidak pernah terjadi secara seketika. Kita sering membaca sejarah dalam bentuk tanggal: 20 Mei 1908, 28 Oktober 1928, 17 Agustus 1945, atau 10 November 1945. Tanggal-tanggal tersebut tampak seperti titik yang berdiri sendiri. Padahal, di balik setiap tanggal terdapat perjalanan panjang. Sumpah Pemuda tidak muncul tiba-tiba pada 28 Oktober 1928. Ia lahir dari proses perjumpaan, pendidikan, organisasi, perdebatan, dan tumbuhnya kesadaran bahwa identitas yang lebih besar bernama Indonesia dapat dibangun. Demikian pula kemerdekaan tidak lahir secara tiba-tiba pada 17 Agustus 1945. Ia merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dibentuk oleh banyak generasi.

Begitu pula masa depan Indonesia. Indonesia 2045 tidak akan lahir pada tanggal 17 Agustus 2045. Indonesia 2045 sedang dibentuk hari ini, melalui keputusan yang kita ambil, sekolah yang kita bangun, desa yang kita kembangkan, industri yang kita ciptakan, teknologi yang kita kuasai, hukum yang kita tegakkan, budaya yang kita wariskan, serta kualitas manusia yang kita persiapkan. Masa depan bukan sesuatu yang menunggu kita di ujung perjalanan. Masa depan adalah sesuatu yang sedang kita bangun setiap hari.

Di sinilah Scripta manent, verba volant memperoleh makna yang lebih dalam. Tulisan bukan sekadar kumpulan kata. Tulisan adalah memori peradaban. Tanpa tulisan, banyak peristiwa akan hilang bersama orang yang mengalaminya. Kita mengetahui berbagai peradaban masa lalu karena manusia meninggalkan prasasti, manuskrip, kitab, surat, catatan perjalanan, arsip, dan berbagai bentuk dokumentasi. Dari tulisan-tulisan tersebut, generasi berikutnya dapat mengetahui bagaimana manusia sebelumnya hidup, berpikir, berperang, berdagang, membangun kota, mengembangkan pengetahuan, mempertahankan keyakinan, mencintai, kehilangan, dan bermimpi.

Karena itu, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk meninggalkan catatan. Bukan hanya catatan tentang siapa yang berkuasa, siapa yang memenangkan perang, atau siapa yang menduduki jabatan penting. Sejarah juga harus mencatat kehidupan manusia biasa: petani, guru, nelayan, pedagang kecil, pekerja, anak-anak, masyarakat desa, para ilmuwan, para pengusaha, dan mereka yang bekerja dalam kesunyian tetapi sesungguhnya ikut membangun negeri. Sebab sejarah yang hanya mencatat penguasa akan kehilangan suara rakyat.

Hari ini bentuk tulisan memang telah berubah. Kita tidak lagi hanya menulis di atas kertas. Kita menulis melalui komputer, telepon pintar, media digital, jurnal, buku elektronik, media sosial, arsip daring, dan berbagai platform pengetahuan. Namun perubahan medianya tidak mengubah tanggung jawabnya. Justru di tengah banjir informasi, tanggung jawab menulis menjadi semakin besar. Satu informasi yang keliru dapat menyebar kepada jutaan orang dalam hitungan menit. Sebaliknya, satu tulisan yang baik juga dapat menjadi rujukan bagi jutaan orang. Karena itu, era digital tidak hanya membutuhkan lebih banyak tulisan, tetapi membutuhkan lebih banyak tulisan yang dapat dipercaya.

Kita membutuhkan dokumentasi yang jujur, data yang dapat diverifikasi, dan sejarah yang tidak ditulis hanya untuk membenarkan kepentingan hari ini. Kita membutuhkan keberanian untuk mencatat kenyataan meskipun kenyataan tersebut tidak selalu nyaman. Sebab sejarah yang sehat bukanlah sejarah yang selalu memuji masa lalu. Sejarah yang sehat adalah sejarah yang berani belajar dari masa lalu.

Namun ada satu hal yang sering kita lupakan: jika tulisan menyimpan sejarah, tulisan juga dapat menyimpan harapan. Sebuah manifesto adalah harapan yang ditulis. Sebuah konstitusi adalah harapan yang dilembagakan. Sebuah rencana pembangunan adalah harapan yang diterjemahkan menjadi agenda. Sebuah buku adalah harapan pengetahuan yang diwariskan. Sebuah sekolah adalah harapan yang dibangun dalam bentuk institusi. Dan sebuah bangsa pada dasarnya adalah kumpulan manusia yang bersedia mempercayai bahwa mereka dapat membangun masa depan bersama.

Karena itu, jangan hanya menulis tentang apa yang telah terjadi. Tulislah juga tentang apa yang ingin kita wujudkan. Jika generasi mendatang hanya membaca catatan tentang kegagalan kita, mereka akan mengenal kita sebagai generasi yang pernah jatuh. Tetapi jika mereka juga menemukan catatan tentang usaha kita untuk bangkit, mereka akan memahami bahwa kita bukan generasi yang menyerah.

Ada paradoks sederhana dalam kehidupan: hari ini terasa seperti masa kini, tetapi ketika esok datang, hari ini sudah menjadi kemarin. Kemudian kemarin menjadi sejarah. Artinya, kita sebenarnya hidup di dalam proses pembentukan sejarah setiap saat. Kita tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar untuk memiliki arti sejarah. Sejarah dibangun oleh jutaan tindakan manusia biasa yang dilakukan secara konsisten. Seorang ayah yang bekerja keras, seorang ibu yang mendidik anak, seorang petani yang menjaga tanah, seorang guru yang tidak menyerah kepada muridnya, seorang ilmuwan yang melakukan penelitian, seorang programmer yang membangun teknologi, seorang pejabat yang memilih kejujuran ketika memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan kekuasaan, atau seorang warga yang tetap menjaga persatuan ketika lingkungan sekitarnya terpecah, semuanya merupakan bagian dari proses sejarah.

Tindakan-tindakan tersebut mungkin tidak menjadi berita hari ini. Namun sejarah bukan hanya apa yang masuk berita. Sejarah adalah akumulasi dari apa yang dilakukan manusia ketika tidak ada kamera yang mengawasinya. Karakter sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh pidato para pemimpinnya, tetapi juga oleh kebiasaan jutaan rakyatnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pertanyaan terbesar bagi generasi sekarang bukan sekadar bagaimana Indonesia akan dikenang. Pertanyaannya adalah: Indonesia seperti apa yang sedang kita tulis hari ini? Apakah kita sedang menulis Indonesia yang semakin berilmu, atau Indonesia yang semakin mudah terpecah oleh informasi? Apakah kita sedang menulis Indonesia yang ekonominya tumbuh sekaligus memberikan kesempatan luas kepada rakyat, atau Indonesia yang tumbuh tetapi meninggalkan sebagian masyarakatnya? Apakah kita sedang membangun teknologi sendiri, atau hanya menjadi pasar bagi teknologi bangsa lain? Apakah kita sedang membangun institusi yang kuat, atau hanya bergantung pada siapa yang sedang memegang kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak memiliki jawaban sederhana. Namun sejarah tidak pernah menuntut jawaban yang sederhana. Sejarah menuntut keberanian untuk memilih, bertindak, dan mempertanggungjawabkan pilihan tersebut.

Pada akhirnya, manusia tidak membawa apa pun ketika meninggalkan dunia. Harta berhenti pada pemiliknya. Jabatan berhenti ketika masa jabatan berakhir. Popularitas hilang bersama perubahan zaman. Tetapi gagasan dapat terus hidup, karya dapat terus digunakan, tulisan dapat terus dibaca, nilai dapat terus diwariskan, dan tindakan baik dapat menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Itulah sebabnya Scripta manent, verba volant seharusnya tidak hanya dibaca sebagai nasihat untuk menulis. Ia adalah pengingat bahwa setiap generasi memiliki kewajiban meninggalkan sesuatu bagi generasi setelahnya.

Kita menerima dunia dari generasi terdahulu. Kini giliran kita menentukan dunia seperti apa yang akan kita serahkan kepada anak cucu. Kemarin telah menjadi sejarah. Hari ini masih menjadi kesempatan. Besok belum ditulis. Maka jangan sepelekan harapan. Sebab harapan adalah benih dari masa depan, dan masa depan, ketika akhirnya datang, akan berubah menjadi sejarah.

Mungkin suatu hari nanti seseorang akan membuka arsip, membaca buku, menemukan tulisan kita, melihat keputusan yang kita buat, dan bertanya, “Apa yang mereka pikirkan ketika hidup di zaman itu?” Jawabannya harus ditemukan dalam jejak yang kita tinggalkan. Karena pada akhirnya, verba volant—kata-kata akan terbang. Tetapi ketika kata-kata itu ditulis dengan pikiran, keberanian, dan tanggung jawab, scripta manent—ia akan tinggal.

Dan mungkin, dari tulisan yang kita tinggalkan hari ini, generasi mendatang akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar catatan sejarah: bahwa pernah ada sebuah generasi yang tidak menyerah pada keadaan, karena mereka masih percaya kepada masa depan.

Kemarin adalah sejarah. Hari ini adalah harapan. Dan apa yang kita lakukan hari ini adalah tulisan yang kelak akan dibaca oleh sejarah.

By azhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *