JAKARTA – Perubahan arah kebijakan bank-bank sentral dunia dalam beberapa tahun terakhir dinilai menjadi sinyal kuat bahwa sistem moneter global tengah memasuki fase transformasi. Akumulasi emas secara masif oleh berbagai negara dipandang bukan sekadar strategi diversifikasi aset, melainkan bagian dari penataan ulang keseimbangan ekonomi internasional yang sedang berlangsung.
Pandangan tersebut disampaikan Konsultan Investasi Emas Nasional M..Ryanto dalam wawancara khusus bersama Narasihub Press. Menurutnya, tren pembelian emas oleh bank sentral tidak dapat lagi dipandang sebagai fenomena jangka pendek, tetapi merupakan respons strategis terhadap meningkatnya ketidakpastian geopolitik, inflasi global, serta perubahan konfigurasi kekuatan ekonomi dunia.
“Yang sedang kita saksikan bukan hanya kenaikan harga emas, tetapi perubahan cara negara-negara memandang emas sebagai instrumen strategis. Emas kembali ditempatkan sebagai aset yang memberikan perlindungan terhadap risiko sistemik,” ujar M. Ryanto.
Menurutnya, negara-negara Asia, terutama China dan India, memainkan peran yang semakin dominan dalam pasar emas global. Namun ia menilai anggapan bahwa China menginginkan harga emas terus naik belum tentu tepat.
“Dari sudut pandang investasi strategis, negara yang masih berada dalam fase akumulasi justru memiliki kepentingan agar harga tidak melonjak terlalu cepat. Koreksi harga biasanya menjadi momentum terbaik untuk menambah kepemilikan emas fisik,” jelasnya.
M. Ryanto mengatakan bahwa setiap pelemahan harga emas sering dimanfaatkan oleh pembeli institusional berskala besar. Strategi seperti ini lazim dilakukan dalam pengelolaan cadangan nasional maupun investasi jangka panjang karena memberikan biaya akumulasi yang lebih efisien.
Ia menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral dunia secara konsisten berada pada level yang sangat tinggi dibandingkan rata-rata historis. Hal tersebut menunjukkan bahwa emas kembali memperoleh posisi penting dalam arsitektur keuangan internasional.
“Ketika bank-bank sentral membeli emas dalam jumlah besar secara berkelanjutan, itu mengirimkan sinyal bahwa mereka sedang mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar dalam sistem moneter global,” katanya.
Menurut M..Ryanto, perubahan tersebut berlangsung secara bertahap melalui penyesuaian komposisi cadangan devisa masing-masing negara, bukan melalui satu kebijakan besar yang terjadi secara mendadak.
Ia menilai semakin banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap aset keuangan tertentu dan memperbesar porsi kepemilikan emas sebagai instrumen lindung nilai. Dalam perspektif jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mengubah struktur cadangan devisa dunia.
“Transformasi moneter tidak selalu diumumkan secara resmi. Ia sering kali terjadi melalui perubahan perilaku pasar, kebijakan bank sentral, serta reposisi aset cadangan negara-negara besar,” ujarnya.
Selain itu, M..Ryanto menyoroti bergesernya pusat aktivitas perdagangan emas fisik dari kawasan Barat menuju Asia. Menurutnya, peningkatan transaksi di kawasan Timur mencerminkan perubahan keseimbangan ekonomi global yang semakin nyata.
“Selama puluhan tahun pusat harga emas identik dengan pasar Barat. Kini pengaruh Asia semakin besar, baik dari sisi permintaan fisik maupun aktivitas perdagangan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap emas juga tidak hanya terjadi di kalangan investor ritel, tetapi mulai meluas ke institusi keuangan, perusahaan investasi, hingga pemerintah berbagai negara.
Meski demikian, M..Ryanto mengingatkan masyarakat agar tidak membeli emas semata-mata karena euforia kenaikan harga.
“Investasi emas harus ditempatkan sebagai instrumen perlindungan kekayaan dalam jangka panjang, bukan sebagai sarana mencari keuntungan instan. Investor perlu memahami siklus pasar dan menyesuaikan pembelian dengan tujuan keuangan masing-masing,” katanya.
Terkait prospek harga, M..Ryanto menilai ruang kenaikan emas dalam jangka panjang masih terbuka apabila ketidakpastian global terus meningkat dan bank-bank sentral melanjutkan tren akumulasi cadangan emas. Namun, ia menegaskan bahwa pergerakan harga tetap akan dipengaruhi oleh dinamika suku bunga, inflasi, nilai tukar dolar AS, serta kondisi geopolitik dunia.
“Yang terpenting bukan sekadar berapa harga emas lima atau sepuluh tahun mendatang, melainkan memahami mengapa hampir semua bank sentral kini kembali menjadikan emas sebagai salah satu fondasi utama cadangan negara. Di situlah pesan strategis yang perlu dibaca oleh para investor maupun pembuat kebijakan,” pungkasnya.
