JAKARTA – Transisi menuju energi bersih diperkirakan akan mendorong lonjakan permintaan lithium secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang. Di tengah percepatan penggunaan kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan pengembangan hidrogen hijau, lithium kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai komoditas tambang, melainkan sebagai mineral strategis yang akan menentukan keberhasilan dekarbonisasi global.
Temuan tersebut mengemuka dalam sebuah kajian ilmiah terbaru yang menyoroti bagaimana sistem energi dunia sedang mengalami transformasi besar menuju target net zero emission pada pertengahan abad ini. Meningkatnya pemanfaatan energi surya, angin, dan teknologi hidrogen membuat kebutuhan terhadap sistem penyimpanan energi berbasis baterai lithium-ion semakin krusial.
Kajian tersebut memperkirakan permintaan lithium dunia akan meningkat antara empat hingga delapan kali lipat pada 2030 dan berpotensi melonjak hingga puluhan kali dibandingkan tingkat saat ini pada 2050 apabila adopsi kendaraan listrik dan energi terbarukan berlangsung sesuai skenario dekarbonisasi yang agresif. Dalam skenario Net Zero International Energy Agency (IEA), kebutuhan lithium diproyeksikan mencapai sekitar 3–4 juta ton lithium carbonate equivalent (LCE) pada 2030, jauh di atas konsumsi sekitar 500 ribu ton pada 2022.
Kendaraan Listrik Menjadi Penggerak Utama
Sektor kendaraan listrik diperkirakan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan permintaan lithium. Kajian tersebut menunjukkan sekitar 75–80 persen peningkatan kebutuhan lithium hingga 2030 berasal dari industri kendaraan listrik.
Selain kendaraan listrik, pertumbuhan tercepat justru terjadi pada sistem penyimpanan energi skala besar (Battery Energy Storage System/BESS) yang digunakan untuk menjaga stabilitas jaringan listrik berbasis energi surya dan angin. Teknologi ini menjadi kunci untuk mengatasi sifat intermiten energi terbarukan sehingga pasokan listrik tetap stabil ketika produksi energi berubah-ubah.
Penggunaan baterai lithium juga mulai berkembang pada sistem produksi hidrogen hijau, terutama untuk menjaga kestabilan pasokan listrik menuju elektroliser yang menghasilkan hidrogen dari energi terbarukan. Meskipun porsinya masih relatif kecil, segmen ini diproyeksikan menjadi salah satu sumber pertumbuhan permintaan baru dalam satu dekade mendatang.
Rantai Pasok Masih Sangat Terkonsentrasi
Di balik prospek pertumbuhan tersebut, kajian juga mengingatkan adanya risiko besar pada sisi pasokan. Cadangan lithium dunia masih terkonsentrasi di beberapa negara seperti Chile, Australia, Argentina, dan China. Sementara itu, sekitar 60 persen kapasitas pemurnian lithium dunia masih dikuasai China.
Kondisi tersebut menjadikan rantai pasok lithium sangat rentan terhadap gangguan geopolitik, pembatasan ekspor, maupun kebijakan industri nasional. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China dinilai semakin memperkuat pentingnya diversifikasi rantai pasok mineral kritis sebagai bagian dari strategi keamanan energi berbagai negara.
Tantangan Lingkungan Masih Besar
Meskipun berperan penting dalam mendukung energi bersih, eksploitasi lithium juga menghadirkan tantangan lingkungan yang tidak kecil.
Metode penambangan batuan keras (hard rock mining) membutuhkan energi tinggi serta menghasilkan emisi karbon yang relatif besar. Sementara metode ekstraksi dari air garam (brine evaporation) banyak dikritik karena konsumsi air yang tinggi dan berpotensi mengganggu ekosistem di kawasan kering, terutama di wilayah Amerika Selatan.
Para peneliti menilai paradoks mulai muncul dalam transisi energi global. Di satu sisi, lithium menjadi material utama untuk mengurangi emisi karbon dunia. Namun di sisi lain, proses ekstraksi dan pengolahannya berpotensi menciptakan tekanan lingkungan baru apabila tidak diimbangi dengan tata kelola yang berkelanjutan.
Daur Ulang Menjadi Kunci
Untuk mengurangi tekanan terhadap penambangan primer, penelitian tersebut menekankan pentingnya pengembangan industri daur ulang baterai.
Melalui peningkatan tingkat pengumpulan baterai bekas, efisiensi teknologi pemulihan material, dan penerapan ekonomi sirkular, kebutuhan terhadap lithium hasil tambang diperkirakan dapat ditekan hingga 25–64 persen pada periode 2040–2050.
Selain itu, pengembangan teknologi ekstraksi baru seperti Direct Lithium Extraction (DLE) dinilai mampu mengurangi konsumsi air, mempercepat produksi, sekaligus menurunkan dampak lingkungan dibandingkan metode konvensional.
Narasihub Insight
Lithium kini telah berubah status dari sekadar bahan baku baterai menjadi aset strategis dalam geopolitik energi global. Negara yang mampu menguasai rantai pasok lithium—mulai dari penambangan, pemurnian, manufaktur baterai, hingga daur ulang—akan memiliki keunggulan kompetitif dalam ekonomi rendah karbon.
Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan peluang yang sangat besar. Sebagai salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia dan sedang membangun ekosistem kendaraan listrik, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperluas perannya tidak hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai pusat manufaktur baterai dan teknologi penyimpanan energi di kawasan.
Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pengembangan industri mineral kritis dilakukan secara berkelanjutan. Standar lingkungan, tata kelola pertambangan, investasi teknologi pemrosesan, serta pembangunan industri daur ulang baterai harus menjadi bagian dari strategi nasional agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengekspor mineral, melainkan pemain utama dalam rantai nilai energi bersih global.
Dengan kata lain, persaingan masa depan bukan lagi semata-mata mengenai siapa yang memiliki cadangan mineral terbesar, tetapi siapa yang mampu membangun ekosistem industri, teknologi, dan kebijakan yang paling berkelanjutan untuk mendukung transisi energi dunia.

