
Oleh/Dari : Tanhana Dharma Mangruva Institute
Setidaknya ada tiga kelompok besar secara ideologis dan on mission sedang bertarung di Indonesia
Yaitu, kelompok kiri yang berakar pada estafet gerakan komunis ber cover sosialis kerakyatan
Lalu kelompok Sekuler Liberalis, yang berinduk pada barat dan elit global, sebagai agen agen proxy asing berkedok aktifis dan LSM.
Selanjutnya kelompok Konservatif kanan, yaitu gabungan kelompok Nasionalis tengah kultural dengan kelompok Civil Society Islam moderat
Sejak Indonesia merdeka tiga kubu ini bertarung untuk saling berebut kendali dan pengaruh di tengah masyarakat. Ada yang sadar secara ideologis, namun juga ada yang tidak sadar hanya sebagai tim horee
Tiga kelompok ini terpecah, akibat hasil konfigurasi serangan infiltrasi sistematis bernama social of engineering cognitive warfare dengan estafet gerakan sejak pra kemerdekaan.
Kelompok kiri yang berinduk pada Komunis China dan sedikit gerakan Sosialis eropah, dengan jualan konsep pro kerakyatan, anti neo-kapitalisme, dan anti terhadap keberadaan Agama khususnya Islam dalam pemerintahan, dengan jualan isu radikalisme, intoleransi dan politik identitas
Lalu kelompok Sekuler liberal, yang berinduk pada Amerika dan Mossad Israel, jualannya adalah demokrasi, kebebasan pers, HAM, dan pro pasar dan Investasi luar negeri. Ciri khasnya juga adalah : Anti terhadap militer, anti kemapanan absolut, anti terhadap nilai nasionalisme dan patriotisme dgn kedok pro kebebasan dan kemerdekaan berpikir masyarakat.
Dan selanjutnya kelompok konservatif kanan, dengan jargon ultra nasionalisme, pro patriotisme kebangsaan, anti terhadap asing dan aseng, serta selalu membawa-bawa nilai agama sebagai platform moral dalam bernegara sebagai tools instrumen politiknya.
Dan uniknya adalah, masing2 kelompok ini juga punya cara pandang yang berbeda2 terhadap institusi TNI dan POLRI, ada yang mesra tapi juga ada yang kontra
Kelompok Kiri mesra dengan POLRI, tetapi kontra dan punya dendam masa lalu terhadap TNI
Kelompok konservatif kanan mesra dengan TNI, tapi semasa rezim Jokowi jadi bulan bulanan korban kriminalisasi Polri, ini adalah fakta apa adanya.
