Saat fajar menyingsing di atas Teluk Persia, dunia menyaksikan sesuatu yang tak pernah terbayangkan dalam literatur akademik pertahanan mana pun: mitos air superiority AS dan Iron Dome Israel runtuh dalam sekejap. Bukan karena kalah dalam duel udara dogfight yang epik, bukan pula karena kehabisan amunisi di medan tempur konvensional, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih fundamental—runtuhnya infrastruktur perang itu sendiri. Kita tidak lagi berbicara tentang perang proksi, atau shadow war yang berlangsung dalam senyap. Kita sedang menyaksikan benturan langsung antar-negara dengan intensitas yang melampaui Operasi Desert Storm 1991. Namun perbedaan mendasarnya bukan pada teknologi yang digunakan, melainkan pada siapa yang memegang kendali eskalasi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pascaperang dingin, Amerika Serikat kehilangan apa yang oleh para analis militer sebut sebagai escalation dominance—kemampuan untuk menentukan kapan perang dimulai, seberapa cepat eskalasi terjadi, dan kapan perang harus berakhir. Di mata dunia, hegemoni militer Barat sedang berada di titik nadir, dipaksa gagap oleh kombinasi teknologi hipersonik dan perang asimetris yang didukung oleh kontra-hegemon global pesaing AS: Cina dan Rusia.

Selama tujuh dekade, doktrin militer AS dibangun di atas satu fondasi utama: penguasaan langit. Siapa yang menguasai udara, dialah pemenang perang. F-35, F-15, F-16, dan B-1B Lancer adalah instrumen supremasinya. Pangkalan-pangkalan udara di Qatar, Kuwait, UEA, dan Bahrain adalah benteng-benteng tak terkalahkan. Namun Iran membaca peta kekuatan dengan cara berbeda. Mereka tidak perlu mengalahkan F-35 di udara—cukup menghancurkan landasan pacu tempat pesawat itu berpijak. Dan itulah yang terjadi. Pangkalan Udara Nevatim dan Tel Nof di Israel, markas skuadron F-35 tercanggih, dihantam salvo rudal masif. Landasan pacu hancur, hangar jebol, tangki avtur meledak. Pesawat-pesawat siluman senilai miliaran dolar itu kini menjadi target diam yang tak berdaya. Di Kuwait, tiga unit F-15 jatuh bukan karena ditembak musuh, melainkan oleh baterai Patriot milik mereka sendiri—sebuah skandal friendly fire yang menjadi simbol paling memalukan bagi kegagalan sistemik militer AS. Lebih parah lagi, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan Al Udeid di Qatar—pusat komando utama USAF di kawasan—mengalami hantaman masif. Radar pertahanan udara dilaporkan buta total akibat serangan siber pendahulu yang kemungkinan besar menggunakan teknologi peperangan elektronik canggih. Sebuah laporan menyebutkan kerugian material AS dalam empat hari pertama perang mencapai hampir US$2 miliar, termasuk hancurnya radar AN/FPS-132 senilai US$1,1 miliar di Al Udeid. Fakta teknis yang tak terbantahkan: pesawat tempur tercanggih sekalipun tidak berguna jika sistem radar pangkalan lumpuh dan landasan pacu rata. Inilah pelajaran pertama yang harus dicatat oleh setiap negara yang masih bermimpi membangun pertahanan dengan sekadar membeli pesawat mahal dari luar negeri.

Di tengah asap yang masih mengepul dari pangkalan-pangkalan yang hancur, laporan dari saluran diplomatik menggambarkan panorama yang tak kalah dramatis: Presiden Donald Trump, melalui backchannel di Italia, mengajukan permohonan penghentian permusuhan ke Iran. Interpretasi geopolitik atas langkah ini hanya satu: strategic retreat. Bukan manifestasi perdamaian tulus, melainkan pengakuan diam-diam bahwa AS kehabisan napas. Analis militer telah lama memperingatkan bahwa stok rudal Tomahawk dan rudal hanud Patriot terkuras pada tingkat mengkhawatirkan—akibat perang Ukraina yang berkepanjangan dan operasi-operasi sebelumnya di Timur Tengah. Satu pejabat Pentagon bahkan mengungkapkan kekhawatiran bahwa deplesi ini akan menciptakan celah strategis di Pasifik jika konflik dengan Cina meletup di Laut Cina Selatan. Trump menyadari dilema ini. Janji narasi America First tidak bisa dipertahankan jika alutsista mulai hancur dan peti mati tentara AS terus mengalir ke Dover Air Force Base. Italia dipilih sebagai mediator karena statusnya yang relatif netral dan memiliki akses komunikasi ke Teheran. Namun Iran tetap pada posisi ofensif: tidak ada gencatan senjata tanpa pengosongan seluruh pangkalan AS di Teluk. Di sinilah ironi sejarah mencatat: negara adidaya yang selama 25 tahun terakhir leluasa menentukan agendanya di Timur Tengah, kini harus merunduk memohon pada negara yang selama ini ia remehkan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *