Laporan Khusus Narasihub dari Kalimantan
BANJARBARU, Narasihub — Kabut abu-abu menyelimuti Kota Banjarbaru sejak pagi. Jarak pandang di sejumlah ruas jalan utama hanya mencapai 10 meter. Dari kejauhan, kepulan asap masih terlihat membubung dari arah Liang Anggang—titik di mana kobaran api kini telah mendekati permukiman warga dan Jalur Trans Kalimantan.
“24 jam kami di sini menghirup asap. Setiap pagi mulai kabut, nggak ada kelihatan apa-apa,” kata Erli Santi, warga Banjarbaru, kepada tim Narasihub di lokasi, Kamis (20/8). Ia harus mengenakan masker bahkan saat berada di dalam rumah. Anak-anak di lingkungannya pun baru berangkat sekolah setelah kabut agak mereda—menunggu waktu yang tak pasti.
Di tengah kepungan asap, tim media Narasihub menyusuri langsung kawasan terdampak karhutla di Kalimantan Selatan, Tengah, dan Barat pada pertengahan Agustus 2026. Yang kami temukan di lapangan bukan sekadar kebakaran. Ini adalah krisis yang sudah membudaya.
Ketika Api Mendekati Rumah, Bukan Sekadar Hutan yang Terbakar
Di Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, kobaran api bukan lagi sesuatu yang terlihat dari kejauhan. Hamparan lahan kering yang sangat luas membentang, dan api terus merambat mendekati pemukiman.
Hendra, salah seorang relawan pemadam di lokasi, mengaku kewalahan. “Lahan yang terbakar ini sangat luas. Dipadamkan di sini muncul di sana. Kami harus bekerja ekstra untuk menghambat laju api,” ujarnya kepada Narasihub, Rabu (19/8) malam.
Puluhan armada pemadam kebakaran—termasuk dari swasta—dikerahkan serentak. Namun api di lahan gambut tidak seperti api di tanah biasa. “Ini memang harus dikeroyok,” kata Hendra.
Berdasarkan data BPBD Kotawaringin Barat per 18 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 859,49 hektare dari 189 kejadian. Di Samarinda saja, sejak Januari hingga 19 Agustus 2026 tercatat 63 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar 85,81 hektare. Sementara di Kalimantan Tengah, area kebakaran telah mencapai 148,71 hektare.
Tapi angka-angka itu tidak cukup menggambarkan apa yang kami saksikan: batas antara kawasan kebakaran dan ruang hidup masyarakat semakin tipis.
Lihat Sebaran titik api di Kalimantan
Asap Menyusup ke Tenggorokan, Sekolah, dan Ekonomi
Dampak karhutla tidak berhenti di lahan yang hangus. Ia merambat ke tubuh warga, ke ruang kelas, dan ke mata pencaharian.
Di Banjarbaru, konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik—masuk kategori Berbahaya, jauh melampaui ambang batas 250,5 mikrogram. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Banjarbaru, Harun Arrasyid, mengungkapkan indeks polusi udara dalam dua hari terakhir berkisar antara 170-an hingga 480-an mikrogram per meter kubik. “Kategorinya memang sudah sangat-sangat tidak layak, tidak sehat,” ujarnya.
Di Kalimantan Tengah, dampak kesehatan mulai terasa nyata. BPBD Kalteng mencatat 66.679 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap. Di Palangka Raya, Indeks Kualitas Udara (AQI) bahkan menyentuh angka 487 pada 19 Agustus 2026—masuk kategori Berbahaya.
Para pengguna jalan merasakan dampaknya langsung. Lilik, seorang pemotor yang melintasi Liang Anggang, mengaku napasnya sesak dan matanya perih meski hanya sebentar menerobos asap. Dika, pengendara lain, memilih memutar jalur lebih jauh demi menghindari paparan.
“Warga agar bisa pakai masker, ini sudah bahaya,” imbau Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Syamsir Rahman.
Bom Ekologis yang Tak Kunjung Padam
Di sepanjang perjalanan kami, satu fakta menjadi jelas: kebakaran gambut adalah musuh yang berbeda.
Lahan gambut, yang terbentuk dari tumpukan material organik selama ribuan tahun, memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Namun ketika musim kemarau tiba dan gambut mengering, lahan ini berubah menjadi bahan bakar raksasa yang sangat mudah terbakar.
“Api dapat bertahan, bergerak, dan muncul kembali meskipun permukaan terlihat sudah padam,” demikian karakteristik lahan gambut yang dijelaskan dalam buku Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut.
Di Banjarbaru, kebakaran terjadi di daerah Landasan Ulin Selatan, Landasan Ulin Tengah, dan Landasan Ulin Timur—kawasan dengan puluhan hektare lahan gambut. “Hampir setiap hari terjadi kebakaran dengan skala kecil, menengah, maupun besar,” kata Harun.
Data dari Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan menunjukkan lonjakan drastis titik panas. Pada 17 Agustus 2026, tercatat 123 hotspot di tiga provinsi Kalimantan. Hanya dua hari kemudian, angkanya melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi 518 titik. Secara kumulatif sepanjang 17-19 Agustus, total hotspot berkepercayaan tinggi mencapai 750 titik. BNPB bahkan mendeteksi 1.487 titik panas yang berpotensi menjadi karhutla di seluruh Pulau Kalimantan.
Antara Respons dan Pencegahan: Ironi yang Berulang
Pemerintah bergerak cepat—setelah api membesar. Lebih dari 10.700 personel gabungan dikerahkan di Kalimantan Tengah. Puluhan helikopter water bombing disebar. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dijalankan dengan lima helikopter dan satu pesawat.
Namun di lapangan, tim Narasihub melihat ironi yang sama setiap tahun: negara kuat ketika api sudah membesar, tetapi belum cukup kuat sebelum api muncul.
“Kolaborasi dengan masyarakat Kelompok Tani Hutan, Brigade Manggala Agni, dan perusahaan-perusahaan yang punya Alat Pemadam Api Ringan perlu dikoordinasikan,” demikian salah satu usulan yang mengemuka. Namun koordinasi itu—seperti diakui banyak pihak—masih lebih terasa saat krisis, bukan sebagai sistem permanen.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan penindakan tegas terhadap pelaku pembakaran. “Siapa pun, besar, kecil, tanpa pandang bulu, yang melakukan perusakan alam, perusakan hutan, akan kita tindak secara tegas,” ujarnya di Palangka Raya. Polda Kalimantan Tengah telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka karhutla.
Namun pertanyaan yang lebih mendasar tetap menggantung: Mengapa kebakaran terus berulang di lokasi yang sama?
Normalisasi Bencana: Ketika Asap Menjadi “Tradisi”
Yang paling mengkhawatirkan dari karhutla 2026 bukanlah jumlah titik api. Di Banjarbaru, sebagian masyarakat telah hidup dengan kabut asap selama bertahun-tahun. Seorang warga bahkan mengaku “api paling dekat permukiman ya [baru] tahun [2026] ini”—seolah kedekatan api dengan rumah adalah sebuah tolok ukur, bukan sebuah kegagalan.
Generasi muda Kalimantan tumbuh dengan pengalaman bahwa musim kemarau berarti bersiap menghadapi asap.
Inilah yang oleh para pegiat lingkungan disebut sebagai normalisasi bencana. Ketika sebuah bencana berulang begitu lama hingga masyarakat menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan, negara menghadapi persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar kebakaran.
Kabut asap yang memasuki rumah-rumah warga, anak-anak yang harus memakai masker untuk sekolah, pengemudi yang memperlambat kendaraan karena jarak pandang terbatas, dan peternak yang kehilangan aset—semua ini bukan lagi kejadian luar biasa. Ini adalah siklus.
Menuju Sistem, Bukan Sekadar Respons
Berdasarkan pantauan tim Narasihub di tiga provinsi Kalimantan selama Agustus 2026, ada lima catatan kritis yang perlu menjadi perhatian:
Pertama, sistem peringatan dini yang berbasis cuaca, kelembapan gambut, tinggi muka air, dan sejarah kebakaran masih belum menjadi instrumen utama pengambilan keputusan. Padahal lonjakan hotspot dari 123 menjadi 518 titik dalam dua hari menunjukkan betapa cepatnya risiko membesar.
Kedua, operasi pencegahan belum berjalan dengan intensitas yang sama seperti operasi pemadaman. Negara masih menunggu api membesar sebelum mengerahkan seluruh kekuatannya.
Ketiga, intelijen lingkungan—pemetaan hotspot terhadap status lahan, konsesi, desa, jaringan jalan, kanal, dan sejarah kebakaran—masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Keempat, ketahanan masyarakat di desa-desa rawan belum memiliki kapasitas pemadaman awal, sumber air, dan perlindungan kelompok rentan yang memadai.
Kelima, penegakan hukum masih belum menjangkau aktor-aktor besar yang memiliki kapasitas ekonomi dan politik untuk lolos dari pemeriksaan.
Harapan di Tengah Asap
Di sela-sela kepulan asap yang menyelimuti Banjarbaru, tim Narasihub masih menyaksikan perlawanan kecil: relawan yang kami temui (AVI Humanity) terus berjibaku memadamkan api, warga yang saling mengingatkan memakai masker, dan petugas yang bertahan di medan berat meski api kembali muncul di tempat yang sudah dipadamkan.
Mereka tidak kekurangan keberanian. Yang dibutuhkan adalah sistem yang membuat keberanian mereka tidak terus-menerus dibutuhkan.
Karhutla Kalimantan pada Agustus 2026 bukan sekadar bencana ekologis. Ini adalah krisis tata kelola, kesehatan publik, ekonomi, dan keamanan manusia. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana memadamkan api, tetapi mengapa negara terus membiarkan masyarakat hidup dalam siklus api dan asap yang sama?
Jika pertanyaan itu tidak dijawab, maka setiap tahun kita hanya akan menghasilkan cerita yang sama—dengan korban yang berbeda, di tengah asap yang tak kunjung usai.
Laporan tim liputan Narasihub dari Banjarbaru, Palangka Raya, dan Pontianak, Agustus 2026.

